Perjumpaan Kelima: Pencapaian Separuh Jalan Murid-murid Asung

Untuk ukuran galeri seni rupa, Ruru Gallery di Gudskul bisa dikatakan sempit. Luasnya yang hanya 2 x 6 meter itu saya rasa sangat membatasi ketika seniman hendak memajang karyanya di sana. Dengan luas demikian tentu seniman tidak bisa memamerkan karya-karya yang seluruhnya berukuran besar (lebih dari 2 x 2 meter, misalnya). Bahkan untuk memamerkan karya trimatra pun seniman harus mempertimbangkan baik-baik letak dan ukuran karyanya. Pameran sebelumnya di Ruru Gallery pada tanggal 22 Desember 2018 sampai dengan 12 Januari 2019 oleh seniman grafis Hauritsa lebih banyak memamerkan karya-karya kecil berukuran tidak lebih dari 80 x 45 cm. Memang Hauritsa pada pameran berjudul “Lampu Sudah Padam, Tapi…. Bayangannya Masih Ada” tersebut juga memamerkan mural yang ukurannya cukup besar (berukuran 2 x 3 meter) yang ia kombinasikan dengan tumpukan huruf-huruf abjad di lantai. Namun karena sempitnya ruangan, karya yang dimaksudkan untuk menjadi interaktif itu tidak berhasil mengundang pengunjung untuk memainkannya.

Picture1

Ruru Gallery dan pameran seni grafis oleh Hauritsa

Segera setelah pameran Hauritsa selesai, pada hari Selasa tanggal 15 Januari 2018, Ruru Gallery di Gudskul untuk pertama kalinya digunakan sebagai tempat perhelatan karya performans. Seniman performans sekaligus pengampu kelas kursus “Performans Dalam Ruang”, Reza “Asung” Afisina, menjadi penggagas hajatan tersebut. Malam itu sebenarnya adalah perjumpaan kelima kelas kursus. Pada empat perjumpaan sebelumnya mereka telah mempelajari berbagai konsep dasar performatika seperti konsep ruang yang fisik dan yang non-fisik, ruang yang terukur, hubungan tubuh dengan ruang, hubungan tubuh dengan objek yang memiliki ruang, rekonstruksi gerak sehari-hari menjadi gerak performans, hingga konsep ruang sebagai pengganti satuan waktu. Asung memberi kesempatan bagi peserta kursus untuk menerapkan konsep-konsep itu dalam bentuk karya yang utuh di hadapan publik. Maka jadilah hajatan malam hari itu dengan tajuk “Pertemuan Kelima Kami”, yang mana menampilkan lima nomor dari Christopher Danang, Jessica Tanto, Thezar Rezandy, dan Asung sendiri. Namun pada kesempatan kali ini, saya hanya akan membahas empat nomor performans tunggal masing-masing seniman. Nomor terakhir yang adalah performans kolaborasi antara Jessica Tanto dengan Thezar Rezandy akan dibahas pada kesempatan lainnya.

Peristiwa seni performans cenderung tidak memiliki jejak, lain halnya dengan seni rupa lainnya yang statis seperti lukisan, patung, atau grafis. Ketiadaan jejak seni performans menjadikan penonton yang ingin menikmati tidak dapat memilih datang pukul berapa, tetapi harus hadir pada waktu yang telah ditentukan. Ternyata sekitar 35 orang penonton yang hadir sejak pukul 19.00 WIB malam itu menjadikan ruang kecil Ruru Gallery penuh sesak. Ruru Gallery yang dalam fungsinya memamerkan karya-karya statis saja sudah terbatas karena ukurannya, saat itu dijadikan lebih terbatas lagi sebagai tempat menonton performans sekaligus panggung bagi penampilnya. Saking terbatasnya ruang, beberapa hadirin bahkan sampai terpaksa menonton dari luar galeri. Tentu saja yang paling terbatasi di sana adalah gerak para penampil. Saya perkirakan luas lantai yang tersisa bagi penampil hanya tinggal 1 x 4 meter. Bisa dikatakan jarak antara penonton dan penampil nyaris tidak ada.

Performans yang Berinteraksi dengan Penonton

Bagaikan menjejal pasar ke dalam peti kemas, demikian kesan yang tertangkap atas keramaian malam itu. Agaknya kata “pasar” cocok juga digunakan sebagai kiasan karena selain ramainya seperti di pasar akhir pekan, beragam interaksi juga negosiasi langsung terjadi seperti di pasar, begitu performans dimulai. Tentunya bukan interaksi dan negosiasi ekonomi yang saya maksudkan, melainkan interaksi simbol dan penanda, juga negosiasi gerak antara tubuh penonton dan tubuh seniman. Kedekatan jarak antara penampil dengan penonton nyatanya mampu mewujudkan hal tersebut.

Suasana “Pertemuan Kelima Kami” terasa sangat intim hingga dapat dimanfaatkan oleh para penampil untuk mengundang reaksi penonton melalui karya-karyanya. Christopher Danang, misalnya, berulang-ulang meniup balon hingga menjadi sangat besar dan akhirnya meletus. Setiap kali melihat Danang mengeluarkan balon, sebagian besar penonton segera menutup telinganya, ada yang memejamkan matanya, dan ada pula yang memalingkan wajah karena takut dengan suara ledakan. Namun ternyata tidak seluruh balon diledakkan oleh Danang. Beberapa kali balon sengaja dibuatnya kecil saja hingga dapat ia kantongi dan ada pula yang ia biarkan terbang. Mengetahui itu, penonton yang sudah terlanjur bersiap menghindari suara ledakan jadi bernafas lega dan mimik ketakutan segera hilang dari wajah mereka. Di sini Danang memain-mainkan ekspektasi penontonnya saat mereka sudah yakin akan terjadi ledakan lagi. Demikian pula pada aksi-aksi Danang yang lain seperti ketika ia menggeser-geser kursi, membuka-memakai jaket, atau ketika ia merogoh-rogoh kantongnya, ia melakukannya berulang-ulang hingga penonton tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Namun sesekali Danang menahan gerakannya sebentar, membuat ekspektasi penonton atas apa yang akan terjadi berikutnya sesekali tidak terwujud.

Picture2

Christopher Danang mempermainkan ekspektasi penonton dengan balonnya

Dengan metode yang hampir sama, Asung juga menghadirkan karya yang mengundang gidik penontonnya. Bedanya, Asung sudah membangun suasana mencekam sejak awal melalui teriakannya yang melengking menyerupai burung liar. Sambil berteriak ia mengeluarkan mistar lipat yang biasa digunakan oleh pekerja bangunan lalu melilitkan benda itu di sekeliling kepala dan wajahnya. Seketika saya jadi teringat dengan peserta pawai Tatung di Singkawang yang menusuk-nusukkan berbagai benda tajam ke wajah. Ketegangan masih terus berlanjut ketika Asung mengeluarkan dua buah roll meter dan memain-mainkannya dengan liar seakan-akan itu adalah katana atau nunchaku. Sama seperti pada penampilan Danang, penonton pun terlihat takut karena membayangkan diri mereka tertebas roll meter Asung di ruang sempit itu, apa lagi Asung tampak jelas menutupi matanya dengan dua lembar kertas bergambar mata. Beberapa penonton malah bereaksi ingin menangkis roll meter karena memang hampir mengenai tubuhnya. Namun di sinilah kepiawaian Asung dan kepekaannya terhadap ruang di sekitarnya dapat dilihat; Asung dengan teliti menjaga pergerakan objeknya agar tidak membahayakan penonton tanpa ia jadi terkesan berhati-hati. Sedikit pun roll meter Asung tidak menyentuh pengunjung walau gerakan Asung semakin lama semakin liar layaknya Samurai yang tengah bertarung. Ketelitian Asung dalam mengontrol pergerakan roll meter ini menunjukkan bahwa objek tersebut bukan lagi sekedar properti penampilan melainkan sudah menjadi perpanjangan tubuh Asung.

Picture3

Reza “Asung” Afisina menjadikan roll meter sebagai perpanjangan tubuhnya

Penggunaan alat-alat pengukur merupakan simbol bahwa tubuh Asung juga adalah ruang. Namun, tubuh Asung dan juga tubuh penonton, sebagai ruang yang dinamis, tentunya berbeda dengan ruang statis Ruru Gallery. Maka performans Asung memperlihatkan interaksi antar ruang yang dinamis, yaitu Asung dengan penontonnya. Asung menunjukkan bagaimana pergerakan satu ruang dinamis akan direspon oleh ruang dinamis lain di sekitarnya yang akhirnya menjadi interaksi timbal balik. Dalam hal ini respon takut penonton atas gerakan liar roll meter direspon oleh Asung dengan kontrol yang teliti atas objeknya.

Berbeda dengan Danang dan Asung, interaksi yang dibangun Jessica Tanto dengan penontonnya tidak hanya melalui ruang fisik di Ruru Gallery tapi juga ruang non-fisik, yaitu Internet. Jessica masuk ke ruangan dengan mengenakan kardus warna-warni di kepalanya. Dalam kardus itu rupanya ia menaruh smartphone-nya. Segera setelahnya, lampu Ruru Gallery dipadamkan sehingga baik Jessica maupun penonton tidak dapat melihat sekelilingnya. Satu-satunya petunjuk bagi Jessica untuk bergerak adalah cahaya blitz yang keluar dari smartphone Jessica ketika ia mengambil gambar sekelilingnya. Gambar-gambar itu rupanya ia langsung unggah ke akun intsagram-nya (@jessicatanto.art) sehingga hadirin dapat melihat hasilnya saat itu juga. Maka di tengah kegelapan yang membatasi interaksi dalam ruang fisik, Jessica tetap mampu berinteraksi dengan membagikan sudut pandangnya kepada hadirin melalui ruang non-fisik. Sayang sekali interaksi yang dibangun Jessica tidak seintens performans Danang dan Asung. Jessica tidak sampai memancing reaksi dari penontonnya. Seandainya penonton lebih diajak untuk merespon posting-an Instagram Jessica, entah melalui penambahan tulisan pada posting-an atau sedikit mengedit foto-fotonya sebelum diunggah, mungkin interaksi yang terjadi akan semakin komplit.

Picture4

Jessica Tanto berinteraksi dalam gelap

Lain lagi dengan performans dari Thezar Rezandy. Ia tampaknya lebih tertarik menampilkan interaksi tubuhnya dengan ruang Ruru Gallery dibandingkan interaksi dengan penonton. Thezar tampil di depan penontonnya membawa sebotol air dan banyak sarung tangan karet. Empat sarung tangan karet ia isi dengan air lalu ia gantung pada paku-paku peninggalan pameran Hauritsa dengan menggunakan selotip panjang. Posisi gantung tersebut menjadikan sarung tangan karet Thezar tepat berada di atas tulisan judul karya Hauritsa yang belum dihilangkan. Sayang sekali apa yang Thezar gantung tidak ada kaitan visual sama sekali dengan tulisan judul karya Hauritsa (apakah sengaja?) sehingga aksinya tidak menghasilkan dialog apa pun selain mengingatkan penonton bahwa di ruang tersebut masih terdapat peninggalan pameran terdahulu (apa tidak tahu?). Tampaknya Thezar memang ingin mengajak penonton menikmati detil ruang Ruru Gallery; berikutnya ia menggantung dua sarung tangan di langit-langit galeri, membuat penonton melihat ke atas untuk pertama kalinya dalam hajatan malam itu.

Picture5

Thezar Rezandy mengeksplorasi ruang dengan menggantungkan sarung tangan di berbagai titik

Performans Thezar mencapai puncaknya saat ia mencumbu dinding galeri dengan lima sarung tangan berisi air dan udara terkalung di badannya. Thezar menggesek-gesekkan tubuhnya ke dinding seakan ia sedang menyetubuhi dinding itu. Demikian penggambaran Thezar atas hubungan yang intim antara dirinya dengan ruang. Segera setelah sarung tangan di tubuh Thezar pecah, ia langsung bergerak liar berputar-putar di tengah ruangan dan kemudian menabrak penonton di sisi dinding lainnya. Air dari dalam sarung tangannya tadi tidak hanya membasahi dirinya tetapi juga mengenai beberapa penonton.

Dari keempat nomor performans tunggal di atas dapat diperhatikan bahwa kecilnya jarak antara seniman dengan penonton memperbesar peluang seniman menjadikan penontonnya sebagai bagian dari karya. Bila performans dilakukan di ruangan yang lebih besar, tentu ledakan balon Danang tidak akan terlalu berdampak pada penonton. Semakin besar ruangan yang digunakan, semakin sulit bagi Danang untuk mempermainkan ekspektasi seluruh penonton. Demikian juga pada performans Asung. Justru karena kecilnya jarak antara Asung dengan hadirinlah maka Asung dapat memperlihatkan reaksi tubuh penonton terhadap tubuhnya yang memain-mainkan roll meter. Asung akan membutuhkan objek yang lebih panjang bila ia ingin memancing interaksi yang serupa di ruangan yang lebih besar. Karya Jessica tentunya juga demikian; blitz smartphone-nya tentu akan lebih sulit diperhatikan oleh seluruh penonton bila performans dilakukan di tempat yang lebih luas seperti aula Gudskul, misalnya.

Namun, tidak seluruh performans menjadikan penonton sebagai bagian dari karya. Pada karya Thezar, saat-saat penonton bergerak adalah ketika mereka harus bergeser untuk memberi ruang bagi aksi Thezar terhadap dinding galeri. Pergerakan penonton tersebut sama halnya seperti penonton mempersilahkan si seniman menuju panggungnya. Berbeda jika dibandingkan dengan aksi Danang, Asung, dan Jessica: Ekspresi takut dan gerakan penonton membuka Instagram adalah apa yang memang diharapkan para seniman untuk terjadi sebagai reaksi atas karya mereka. Sedangkan Thezar sama sekali tidak terlihat hendak memancing reaksi gerak dari penontonnya. Tidak peduli apakah karya Thezar dilakukan di galeri besar atau kecil, saya rasa karya tersebut tetap akan mencapai tujuannya karena interaksi yang diinginkan Thezar adalah interaksi dengan ruangan, bukan interaksi dengan penonton.

Picture6

Thezar menyimbolkan keintimannya dengan ruang

Hasil Belajar Separuh Jalan Peserta Kursus

Janganlah kiranya kita lupa bahwa penampilan malam hari itu adalah bagian dari kursus “Performans Dalam Ruang”. Bisa dikatakan hajatan tersebut layaknya presentasi karya tugas dari para peserta kursus atas arahan dari Asung, sang pengampu kelas. Pengerjaan tugasnya pun didasari pada prinsip-prinsip dan teori-teori yang sudah diajarkan pada empat perjumpaan sebelumnya, sebagaimana telah disinggung di atas. Karena kursus merupakan proses pembelajaran, maka “Pertemuan Kelima Kami” bisa digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran. Dari karya-karya malam hari itu kita dapat melihat seberapa jauh penguasaan peserta atas materi pembelajaran yang telah diberikan.

Beberapa prinsip sudah terlihat jelas mengejawantah pada setiap performans. Prinsip hubungan tubuh dengan objek, misalnya, sudah diterapkan pada masing-masing karya. Roll meter Asung, kardus warna-warni Jessica, balon Danang, dan beberapa sarung tangan Thezar bukan lagi sekadar menjadi properti penampilan namun sudah menjadi perpanjangan tubuh senimannya. Objek-objek tersebut tidak cuma diam sebagai pelengkap pertunjukan tetapi aktif digerakkan dalam kontrol sadar mereka. Begitu pula perihal prinsip hubungan tubuh dengan ruang; sudah mandarah-daging pada seluruh penampilan, apa lagi karena didukung dengan ukuran ruangnya yang kecil.

Namun beberapa prinsip yang telah dipelajari hanya terlihat pada beberapa penampilan saja. Pengejawantahan prinsip hubungan ruang fisik dan non fisik cuma terasa pada karya Jessica dan Danang. Jessica secara terang-terangan menggunakan Instagram sebagai “pasar” non-fisiknya di kala “pasar” fisik Ruru Gallery mati lampu. Sedangkan pada karya Danang, ruang non-fisik yang digunakannya adalah konsep waktu. Aksi Danang menahan-nahan sejenak gerakannya tidak hanya dalam maksud bermain-main dengan ekspektasi penonton tapi juga menggambarkan keinginannya mengendalikan waktu. Permainan konsep waktu Danang juga terlihat dari caranya mengatur komposisi aksi; ia memulai performans dengan aksi-aksi sederhana yang datar, kemudian ditengah karya suasana ruang dijadikannya tegang melalui letusan balon, lalu akhirnya tensi performans kembali diturunkan dengan kembali pada aksi-aksi minimalis dan monoton. Melalui cara itu penonton diajak menemui sang waktu dalam kondisinya yang serba relatif. Danang berhasil membuat waktu tiba-tiba terasa berjalan sangat cepat dan mendadak kembali lambat. Selain Danang, seniman-seniman lain tidak terlihat menggunakan ruang non-fisik dan konsep waktu pada karya mereka, demikian pula Asung sebagai pengampu.

Picture6

Danang menggeliat lambat-lambat menjelang akhir performansnya

Dalam pembelajaran, idealnya setiap hal yang dimaksudkan untuk dikuasai peserta harus dipastikan telah benar dikuasai sehingga hasil pembelajaran dapat sejalan dengan apa yang diharapkan untuk dicapai. Pada pembelajaran konvensional di kelas, tindakan pemastian ini dikenal dengan sebutan ujian, yang mana bisa dilakukan di tengah-tengah pembelajaran dan bisa pula di akhir. Pembuktian penguasaan peserta terhadap materi tidak hanya berguna untuk menguji hasil belajar peserta tapi juga dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektifitas pembelajaran itu sendiri. Seharusnya “Pertemuan Kelima Kami”, yang mana berada di pertengahan kursus, adalah momen yang tepat untuk melakukan hal itu. Sayangnya, momen tersebut berlalu kurang efektif karena tidak semua peserta menerapkan prinsip-prinsip performans yang telah mereka pelajari secara utuh pada karyanya. Hanya Danang sajalah yang menerapkan seluruhnya dan hasilnya pun cukup baik. Sedangkan seniman lain? Untuk beberapa prinsip saja, ya, mereka membuktikan penguasaannya; namun untuk prinsip-prinsip lainnya, kita tidak dapat pastikan. Lantas ini salah siapa? Apakah karena pengampu kelas kurang menekankan peserta untuk menerapkan seluruh materi ajar? Ataukah karena kemampuan peserta dalam menyerap materi ajar memang rendah? Mungkin perlu satu kali hajatan lagi untuk mengetahuinya.

Musik Multigenre Dewa Budjana Dibalut Sentuhan Orkestra Kwartet Gesek dan Vibraphone

Sukses dengan dua edisi sebelumnya, pertunjukan musik tahunan Salihara Jazz Buzz tahun ini kembali mengambil tema Jazz Sans Frontieres – Jazz Tanpa Batas. Pada edisinya yang ketiga ini, Jazz Buzz menampilkan empat kelompok musisi yang sangat kental dengan aroma rock. Ada trio rock progressive Ligro pimpinan Agam Hamzah, ensembel jazz-rock Trodon, maestro gitar multigenre Dewa Budjana, dan ada pula proyek musik eksperimental dari Adra Karim dan John Navid.

Hari Minggu tanggal 18 Februari lalu saya berkesempatan menyaksikan Dewa Budjana di Black Box Theater Salihara. Animo penonton terlihat sangat antusias. Sejak dua hari sebelum pertunjukan, tiket sudah terjual habis. Bahkan ada banyak penonton yang tidak mendapat tempat duduk sehingga terpaksa duduk lesehan dengan jarak yang sangat dekat dengan penampil. Ramainya penonton ternyata disambut dengan penampilan yang spesial pula. Dewa kali ini tampil Bersama Kwartet Gesek dan vibraphone. Suatu penampilan langka karena pada berbagai penampilan dan di hampir pada seluruh albumnya Dewa bermain diiringi drum dan keys. Adalah Tony Prabowo, komponis sekaligus kurator musik Komunitas Salihara, yang mengusulkan Dewa tampil Bersama vibraphonis muda Arief Winanda yang juga pernah bermain di Salihara Jazz Buzz 2017. Kelompok string Kwarter Gesek yang terdiri dari Alvin Witarsa (violin), Eko Yuliantoro (violin), Adi Nugroho (biola), dan Dimawan Krisnowo (cello) juga bukanlah sosok asing di pementasan jazz di Salihara. Sebelumnya tahun 2011 Eko, Adi, dan Dimawan juga ikut mengiringi pianis Dwiki Dharmawan juga di Black Box Theater.

Dewa Budjana 2

Formasi penuh Dewa Budjana pada Jazz Buzz Salihara 2018

Konser langsung dibuka dengan lagu berjudul Queen Kanya. Derau keempat strings pada akor minor yang saling tumpang tindih menjadikan ruang pertunjukan menjadi terasa mistis, sebelum akhirnya petikan gitar Dewa memberi warna cerah pada lagu. Gitar Dewa berganti-ganti suara mulai dari petikan akustik, tarikan Panjang gitar elektrik, hingga rambasan yang berdistorsi. Kemudian secara mendadak Dimawan merambas senar-senarnya dengan cepat seakan-akan ia sedang memainkan gitar. Namun karena ia menahan senarnya, suara yang muncul seperti suara gendang perang. Hasilnya cello berganti peran menjadi alat musik perkusi. Suasana kembali terasa mistis karena Arief Winanda memainkan melodi-melodi minor menghantarkan lengkingan-lengkingan violin dan biola yang bersahut-sahutan memberikan klimaks lagu. Lagu ini bercerita tentang seorang ratu Kerajaan Klungkung bernama lengkap I Dewa Agung Istri Kanya yang ikut berjuang dan mengalahkan Belanda pada Perang Kusamba 1849. Perjuangan Ratu Kanya ini ternyata belum menjadikan dirinya diakui sebagai Pahlawan Nasional sehingga Dewa Budjana dan banyak seniman Bali lainnya kini aktif menyuarakan penahbisan Ratu Kanya sebagai pahlawan.

Tanpa berhenti, para musisi langsung masuk ke lagu kedua berjudul Mahandini yang berarti Kereta Besar. Lagu ini menceritakan perjalanan bermusik Dewa Budjana. Dewa merasa kehadiran musisi-musisi lain pada kehidupannya berjasa besar terhadap karirnya. Bagi Dewa, musisi-musisi di sekitarnya adalah Mahandini yang mengantarnya kepada jati diri bermusiknya. Gesekan strings dan ketukan vibraphone bertempo moderat mengiringi petikan gitar Dewa pada tangga nada pentatonik Balinya yang khas. Dewa kemudian berimprovisasi, menghadirkan bayang-bayang suara gitar John McLaughin dan Pat Metheny, dua gitaris yang Dewa anggap sebagai guru besar. Kemudian giliran violin Eko Yuliantoro memberi improvisasi singkat nan mengalir sebelum lagu ditutup. Queen Kanya dan Mahandini adalah lagu baru dan belum terdapat di album-album Dewa sebelumnya karena rencananya baru akan ada pada rilisan album terbaru Dewa berjudul Mahandini.

Berikutnya Dewa memainkan tiga lagu lain tanpa berhenti. Arief Winanda membuka lagu Zentuary dengan solo singkatnya. Lagu ini terasa seperti versi orisinalnya karena sama-sama diiringi oleh strings. Namun Dewa tidak memberikan improvisasi pada penampilan lagu ini seperti pada versi rekamannya. Lagu selanjutnya pada setlist adalah lagu yang berjudul Caka. Menggambarkan suasana tradisi Nyepi umat Hindu Bali, lagu ini dimulai dengan petikan sendu gitar Dewa. Namun kali ini gitar Dewa lebih banyak hanya menjadi pengiring bagi melodi dan harmoni Kwartet Gesek. Kehadiran strings pada lagu ini menjadikan suasana Black Box Theater semakin syahdu. Nuansa musik orkestra terasa sangat kental disini. Wajar saja karena Eko, Adi, dan Dimawan adalah anggota Twilite Orchestra dan juga sudah malang melintang di berbagai orkestra lainnya.

Suasana kembali menjadi lebih bersemangat dengan hadirnya lagu berjudul Dawaiku. Lagu yang dipersembahkan Dewa kepada anak laki-lakinya yang bernama Dawai ini pun ditampilkan dengan cita rasa orkestra. Di tengah lagu, keempat personel Kwartet Gesek bergantian menampilkan improvisasi masing-masing yang lebih beraroma pop sambil diiringi oleh petikan, gesekan, dan rambasan lincah personel lain yang sedang tidak berimprovisasi. Tepukan-tepukan ritmik Dimawan pada cellonya pun menjadikan lagu ini semakin terasa hangat, mendukung penonton meresapi setiap nada improvisasi Kwarter Gesek.

Setelah lagu Dawaiku usai, Alvin, Eko, Adi, dan Arief sejenak meninggalkan panggung. Tersisa Dimawan dan cellonya menemani Dewa menampilkan lagu berjudul Bunga yang Hilang, lagu dari album pertama Dewa tahun 1997. Dimawan memulai lagu dengan petikan senar-senar cellonya pada nada-nada tinggi, menjadikan suara cellonya seperti gitar akustik. Dewa kemudian membalas solo Dimawan dengan tarikan-tarikan Panjang gitar elektriknya yang seperti hendak meniru suara gesekan cello. Pada bagian ini antara cello dan gitar seakan bertukar suara. Namun ini tidak berlangsung lama karena segera Dewa mengubah suara gitarnya menjadi petikan-petikan akustik pula ketika memainkan melodi tema lagu. Selanjutnya Dimawan kembali berimprovisasi dengan meniru suara bass akustik yang mengalir dari melodi-melodi rendah hingga semakin memuncak. Dewa pun membalasnya dengan improvisasi yang tersinkopasi, membuat elemen modern jazz kental terasa pada bagian ini.

Dewa Budjana 1

Dewa Budjana berimprovisasi pada saat membawakan lagu Bunga Yang Hilang

Untuk dua lagu terakhir pada setlist, selain mengundang semua personel untuk kembali ke panggung, Dewa juga mengundang Shadu Rasjidi, anak dari musisi legendaris mendiang Idang Rasjidi, yang sudah bertahun-tahun bermain Bersama Dewa dalam format band. Shadu membuka lagu Lake Takengon dengan solo tempo cepat dari bass bersenar enamnya, menunjukkan keterampilannya mengolah nada tinggi pada bass. Solo itu kemudian disusul dengan raungan-raungan panjang synth-guitar Dewa, membuat penonton seakan-akan berada di luar angkasa. Berikutnya Dewa pun memainkan liukan nada-nada Panjang namun cepat, sambil diiringi harmoni dari Kwintet Gesek dan vibraphone. Sangat disayangkan volume suara alat musik akustik strings dan vibraphone tidak dapat mengimbangi suara gitar dan bass elektrik Dewa dan Shadu. Hasilnya, iringan Kwartet Gesek hanya terdengar seperti cicitan-cicitan tikus, tenggelam dalam lengkingan gitar dan dentuman bass. Namun perbedaan volume suara tersebut tidak lagi ditemukan pada lagu berikutnya, Joged Kahyangan, karena Dewa kembali menggunakan suara gitar akustik. Di tengah lagu Joged Kahyangan, lagi-lagi Arief Winanda diberi kesempatan untuk berimprovisasi. Cukup disayangkan solo-solo Arief dengan vibraphonenya kali ini tidak selincah dan seliar saat penampilannya di Jazz Buzz 2017 sehingga seakan menjadi titik anti klimaks lagu. Namun secara keseluruhan, Dewa, Shadu, Arief, dan Kwartet Gesek memberikan perpaduan manis antara permainan nada-nada pentaton Bali yang lincah, konsep harmoni orkestra yang karismatik, improvisasi kolektif, dan bagian-bagian ritme yang tersinkopasi.

Joged Kahyangan adalah lagu terakhir. Namin karena tidak ingin pertunjukan itu segera berlalu, penonton langsung berteriak memohon encore, ketika seluruh penampil terlihat meninggalkan panggung. Tepuk tangan para penonton yang tidak ingin pulang akhirnya berhasil membujuk Dewa, Kwartet Gesek, dan  Arief Winanda untuk kembali ke panggung membawakan lagu tambahan berjudul In The Morning. Lagu singkat yang romantis yang dicipta untuk istri Dewa ini kembali mengantarkan penonton pada nuansa syahdu sampai akhirnya Dimawan kembali menirukan suara gendang perang. Di tengah lagu penutup itu, Dewa dan Kwartet Gesek memainkan kembali potongan dari lagu pertama mereka, Queen Kanya, membuat nuansa ruang berbalik 180 derajat. Akhirnya pertunjukan malam itu pun ditutup bukan dengan nada-nada sendu tetapi dengan rangkaian melodi yang penuh energi.

Penampilan Dewa Budjana Bersama Kwartet Gesek ini benar-benar memuaskan. Nyatanya lagu-lagu Dewa yang sebagian besar bergenre jazz-rock dan bercita rasa Bali itu sangat cocok bila dibawakan Bersama instrument-intrumen orkestra seperti strings dan vibraphone. Saya rasa sangat disayangkan bila formasi yang memperkaya khazanah musik jazz Indonesia ini hanya ditampilkan sekali saja. Saya pribadi sangat berharap rencana Dewa mengadakan tur nasional tahun ini Bersama Kwartet Gesek dapat terealisasi segera.

Dewa Budjana 3

Formasi penuh Dewa Budjana pada Jazz Buzz Salihara 2018 berfoto bersama di Komunitas Salihara

Sumber foto: Dokumentasi Komunitas Salihara. Diambil dari salihara.org

Pembacaan Saya Pribadi Terhadap Jakarta Biennale 2017

“Tidak ada yang namanya seni rupa Indonesia!” Tahun lalu ketika sedang berjalan-jalan di antara koleksi Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia, saya mendengar seruan itu dari ruangan sebelah. Dasar orang aneh, pikirku, jelas-jelas saat ini kalian sedang melihat seni rupa Indonesia. Seruan itu kemudian disusul dengan diskusi antara beberapa orang. Sebagai orang awam yang tidak memiliki dasar Pendidikan seni rupa, waktu itu saya tidak menganggap serius seruan tesebut, juga diskusinya, dan tidak peduli pula siapakah orang-orang yang berbincang seru itu. Maka tahun lalu seruan itu langsung terlupakan oleh saya. Namun tahun ini, ketika membaca catatan kuratorial Jakarta Biennale 2017 di Gudang Sarinah, saya kembali teringat dengan seruan tadi. Seperti apakah sebenarnya seni rupa Indonesia? Melalui tema “Jiwa” bahkan tim artistik dan tim kurator Jakarta Biennale 2017 (JB 2017) masih terus mencari jawabannya.

Berbicara mengenai jiwa seni rupa Indonesia, mau tidak mau harus membicarakan identitas seni rupa Indonesia itu sendiri. Karena jiwa adalah tenaga penggerak, maka apa yang menggerakkan seni rupa Indonesia akan menentukan identitas seni rupa kita. Bila melihat kembali jejak sejarah seni rupa Indonesia, kita bisa melihat bahwa sejak munculnya Raden Saleh, seniman-seniman Indonesia mengambil citra rasa barat. Lukisan-lukisan Raden Saleh, walau sering berbicara tentang masyarakat Indonesia, tetap mengemukakan citraan khas dari mata pihak kolonial. Tradisi yang dibawa Raden Saleh berlanjut hingga era Basuki Abdullah, Wakidi, Mas Pirngadi, dan banyak seniman lainnya pada tahun 1930an dimana lukisan alam Indonesia pada masa itu digambarkan dengan tritunggal yang khas: gunung, sawah, dan sungai (kadang sungai diganti dengan jalan setapak). “Gunung, sawah, dan sungai ini adalah citraan Indonesia yang utama dari kaca mata kolonial.” Kata Agung Hujatnikajennong pada guided tour Museum Macan bulan November lalu. Pada masa 1930an tersebut, citraan ini digunakan banyak pelukis agar dapat menjual karyanya kepada pejabat-pejabat Belanda.

Montain Landscape - Wakidi

Mountain Landscape – Wakidi, model umum lukisan-lukisan Mooi Indie.
Sumber: senirupasmasa.wordpress.com

Merespon keadaan ini, S. Sudjojono, Agus Djaja, Otto Djaja dan teman-temannya mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Mereka mengecam praktik lukisan pemandangan dengan tujuan komodifikasi tersebut. S. Sudjojono malah menyindir karya-karya Basuki Abdullah dan kawan-kawannya dengan sebutan Mooi Indie yang artinya Hindia indah seperti surga. Bagi Persagi, karya seni rupa harus memotret keadaan kehidupan masyarakat Indonesia dan harus berpihak pada mereka[1]. Sejak saat itu, semangat kerakyatan kembali merasuk pada lukisan para anggota Persagi. Rasa iba dan kepedulian (empati) pada masyarakat waktu itulah yang menjadi tenaga penggerak Sudjojono dan teman-temannya dalam melukis. Ini mengingatkan saya pada kata “Rasa” dalam Bahasa Sansekerta. Pada bincang-bincang seni pameran 70 Tahun Rentang Kembara Roso Srihadi Soedarsono tahun 2016 lalu, Jim Supangkat memberi penjelasan terkait kata “Rasa” ini: “Tingkat pemikiran tertinggi dalam dunia Barat adalah rasionalitas. Sedangkan pada budaya Indonesia, faculty tertingginya adalah Rasa. Rasa itu seperti empati. Keterkaitan dan kebersatuan dengan hal-hal di luar diri seseorang. Juga kemampuan menangkap esensi. Rasionalitas sebenarnya adalah jembatan menuju ke faculty tertinggi itu. Jalan menuju Rasa tadi.” Jadi rasa empati yang menjadi bahan bakar bagi Sudjojono dan teman-temannya dalam berkarya ternyata memang sudah ada pada akar budaya tradisi Indonesia. Saya rasa dari sinilah kita bisa memulai pencarian identitas seni rupa kita: seni yang humanis dan kerakyatan.

Pada perkembangan berikutnya, tradisi dari Persagi tetap berlanjut, mulai dari masa sanggar seni hingga gaya sosial-realis mazhab Yogyakarta. Semuanya melukiskan keadaan sosial masyarakat Indonesia, entah dengan menggambarkan ketimpangan sosial atau mensimbolkan posisi rakyat dalam tatanan politik negeri. Gerakan Seni Rupa Baru pun sebenarnya adalah bagian dari pengembangan semangat yang sama pada masa 1975. 16 seniman Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta pada masa itu mendobrak keadaan dunia seni rupa Indonesia bukan hanya karena ingin menembus batas-batas teknik dan media dalam berkarya, tetapi juga karena merasa ada sangat banyak isu-isu sosial yang dapat di bahas melalui karya di luar tren isu yang melulu dibahas pada rentang waktu tersebut[2].

Pengemis - Affandi

Pengemis – Affandi. Salah satu karya yang muncul di era sanggar. Sumber: galeri-nasional.or.id

Semangat keberpihakan pada rakyat a la Persagi kemudian berkembang menjadi semangat keberpihakan pada yang tersisihkan, semangat menuntut keadilan. Semangat ini bahkan bukan hanya diwujudkan melalui karya seni saja melainkan pula melalui tindakan nyata. Mendiang Semsar Siahaan (1952 – 2005) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam mempopulerkan semangat ini. Semsar ikut turun ke lapangan menuntut hak-hak buruh melalui beragam LSM. Ia sering kali memproduksi gambar dalam bentuk spanduk untuk dipakai pada demonstrasi buruh. Kemudian ia juga ikut menentang penutupan paksa Majalah Tempo, Detik, dan Editor pada tahun 1994. Pada masa itu kaki Semsar patah karena dipukuli oleh pasukan keamanan. Bagi Semsar, dirinya memilih menjadi seniman agar memiliki jiwa yang bebas. Dengan jiwa yang bebas itu ia pun ingin membebaskan orang lain[3].

Poster Marsinah - Semsar Siahaan

Poster Marsinah – Semsar Siahaan. Marsinah adalah buruh wanita yang terbunuh pada demonstrasi tahun 1993

Hal menarik lainnya dari Semsar adalah bahwa ia menguasai Bahasa Rusia dan menerapkannya pada buku catatan hariannya. Namun bukan berarti dia menulis catatan harian dalam Bahasa Rusia. Dia tetap menulis dalam Bahasa Indonesia namun menggunakan aksara Rusia. Hasilnya memang Bahasa Indonesianya sulit untuk dibaca, walau tetap dapat dibaca secara logis. Namun ketika aksara Rusia tersebut dibaca sebagai Bahasa Rusia, catatan harian tersebut menceritakan hal yang lain. Catatan hariannya seperti suatu kode rahasia.

 

Catatan harian semsar russia

Catatan harian Senmsar Siahaan yang menggunakan aksara Rusia

Selain Semsar, semangat aktivisme juga diperlihatkan oleh Dolorosa Sinaga. Dirinya memilih menjadi pematung untuk menunjukkan keberpihakannya pada kaum wanita yang sejak masa mudanya menderita ketidakadilan. Dolorosa yang juga adalah wanita dapat melakukan segala Teknik mematung yang identik dengan aktifitas pria seperti mengecor, memahat, mengelas, hingga menuang logam. Dengan demikian ia menyatakan bahwa wanita tidak kalah kuat dibanding pria. Harapannya, tindakananya tersebut dapat menjadi penghiburan dan penguatan bagi wanita. “Sampai hari ini memang tidak banyak jumlah pematung perempuan. Tapi ini bukan merupakan tanda bahwa lelaki lebih superior daripada perempuan. Tapi mungkin karena minat para perempuan terhadap bidang patung ini belum terlalu besar.” Kata Dolorosa seperti pada wawancara dengan Whiteboard Journal[4]. Lebih lanjut lagi, Dolorosa pun terlibat dengan gerakan cendekiawan budaya dan juga menjadi narasumber terkait fakta pembantaian 1965 di forum internasional[5].

P_20171112_171813 - studio dolo

Karya-karya Dolorosa Sinaga

Kedua seniman sekaligus aktivis, Semsar dan Dolorosa, mendapat penekanan tersendiri pada JB 2017 ini melalui bagian “Menimbang Kembali Sejarah”. Bersama dengan karya-karya Semsar, dipajang pula arsip pribadinya, catatan hariannya, serta video tentang dirinya. Dolorosa sendiri malah meminjamkan seluruh isi studionya untuk dipajang di Gudang Sarinah. Semua ini agar publik dapat lebih mengenal sosok mereka.

Semangat keberpihakan tersebut masih tetap eksis pada seni rupa kontemporer Indonesia sekarang ini. Aliansyah Caniago menunjukkan rasa keberpihakannya kepada penghuni kampung Aquarium di Sunda Kelapa yang dipindahkan ke hunian lain oleh pemerintah. Walau sudah dapat hunian baru dan kampung mereka sudah dibongkar, para penghuni tetap kembali ke Kampung Aquarium dan membuat tempat tinggal baru disana dengan memakai puing-puing kampung yang tersisa[6]. Aliansyah menghaluskan beberapa puing bangunan dari sana, memasukkannya ke sasana tinju, dan menggunakannya untuk karya performatika. Aksinya meninju-ninju sasana berisikan puing-puing Kampung Aquarium adalah bentuk penggambaran akan penderitaan warga kampung tersebut yang seakan dipukuli oleh regulasi pemerintah. Selain itu Aliansyah juga menampilkan video dirinya menendang-nendang satu bongkahan besar puing Kampung Aquarium ke Istana Presiden sebagai bentuk sindiran kepada pemerintah yang tidak menuntaskan masalah tersebut. Apakah semua masalah sebesar Kampung Aquarium menjadi kecil bila dibawa ke tengah kota Jakarta?

Sunda Kelapa:  Selamat Datang Jakarta – Aliansyah Caniago

Gede Mahendra Yasa mengekspresikan keberpihakannya kepada yang terpinggirkan melalui pemilihan media enchaustic, media yang dipakai untuk melukis oleh umat Kristen Koptik pada abad 1-3 Masehi[7]. Ia mengorbankan gaya melukisnya yang biasanya sangat detil demi menggunakan media enchaustic pada empat lukisan besarnya sebagai bentuk perlawanannya terhadap organisasi garis keras yang menyudutkan minoritas. Kasus umat Kristen Koptik yang didera oleh ISIS di Mesir masih pula memiliki relasi dengan kondisi sosial-politik di Indonesia tahun ini. Aliansyah dan Gede Mahendra mewarisi semangat yang sama seperti yang diwariskan dari Persagi hingga Semsar Siahaan; mereka berkarya dengan digerakkan rasa empati kepada sesama manusia. Perbedaannya hanya pada penggunaan media saja.

Amygdala – Gede Mahendra Yasa. Berikut dengan detil medianya (kanan)

Sudah pasti sebuah biennale akan mengaitkan yang lokal dengan yang internasional. Tema dan semangat keberpihakan dari karya seniman-seniman Indonesia dibandingkan dengan karya-karya seniman negara lain. Misalnya From The Dark Depths karya kiri Dalena (Filipina) yang menceritakan pergulatan anggota partai komunis Filipina untuk mendapatkan kemerdekaan hak mereka. Pada akhirnya, kemerdekaan yang mereka idam-idamkan tersebut baru dapat diperoleh setelah mereka mati.

Secara spesifik semangat keberpihakan yang humanis milik seni rupa Indonesia terpaut erat dengan rangkaian lukisan karya duo pelukis Rusia dan seorang pelukis Ceko, Alexey Klyuykov, Vasil Artamonov, dan Dominik Forman. Ketiga seniman ini menawarkan pemandangan umum bagi kaum buruh di Rusia tahun 1910an[8], seperti perkakas-perkakas mereka, tempat kerja mereka, kegiatan mereka di luar waktu kerja, hingga apa yang mereka konsumsi. Termasuk pula mereka lukiskan suasana kerja buruh di bidang industri seni rupa, juga sosok siluet Cecil Mariani, anggota Koperasi Riset Purusha, yang bulan Oktober lalu di Praha menjadi narasumber pada lokakarya bertema dunia buruh industri seni rupa[9]. Lukisan-lukisan ketiga seniman ini dapat menjadi penyemangat bagi para buruh Eropa di masa sekarang.

Lukisan-lukisan Alexey Klyuykov, Vasil Artamonov, dan Dominik Forman

Meninjau identitas seni rupa Indonesia tentunya tak bisa pula lepas dari akar tradisi. Bila kita melihat jauh ke belakang sebelum masa Raden Saleh, kita akan menemukan bahwa tradisi kesukuan Indonesia sudah mengenal bentuk-bentuk visual yang khas. Bentuk-bentuk visual itu dapat ditemukan di manapun, pada relief-relief candi, pada pakaian, rumah tradisional, mau pun pada ornamen-ornamen upacaranya. Sejak awal, seni yang tradisional sangat bersatu dengan masyarakat Indonesia dalam kehidupannya sehari-hari[10]. Corak budaya tradisional dalam lukisan sudah terlihat sejak karya-karya anggota Persagi, dimana ornamen-ornamen kebudayaan digambarkan dalam bentuk pakaian masyarakat dan kesehariannya. Tak jarang pula pada masa itu hingga era sanggar, upacara-upacara adat diambil menjadi tema lukisan. Corak budaya tradisional ini terus bertahan, bahkan ketika gaya lukis abstrak mulai diperkenalkan ke Indonesia dan diserap oleh seniman-senimannya pada tahun 1960-1970an.

Garuda – Abas Alibasyah (1969) dan Tamansari III – G. Sidharta (1975). Lukisan abstrak bercorak tradisi Indonesia.
Sumber: galeri-nasional.or.id

Pertanyaannya adalah, dapatkah yang tradisionil sekaligus menjadi kontemporer? Pada bagian Menimbang Kembali Sejarah, JB 2017 juga memilih seniman almarhum yang menggunakan seni dan kepercayaan tradisi sebagai sumber inspirasi utama mereka dalam mencipta karya kontemporer. Sebelum masa Hendrawan Riyanto (1959-2004), seni keramik, karena termasuk kerajinan tangan, dianggap lebih rendah dibanding seni rupa murni. Namun Hendrawan mendobrak anggapan itu dengan mengeksploritasi media keramik menjadi bentuk-bentuk yang kontemporer dan nirfungsi. Bentuk-bentuknya diambil dari ornamen tradisi Jawa, terutama dari tradisi para petani[11]. Karya yang dipajang di Gudang Sarinah, misalnya, merekonstruksi bentuk patung Loro Blonyo dan digunakannya sebagai pusat perhatian karyanya. Di sekitar patung Loro Blonyo tersebut ditempatkan berbagai bentuk dan ukuran keramik-keramik kering dan beras yang tersusun seperti sajian upacara kesuburan.

Karya-karya keramik Hendrawan Riyanto

Pada pekan pertama JB 2017, saya sempat menanyakan kepada Melati Suryodarmo, art director perhelatan ini, tentang alasan mengapa ia memilih Hendrawan Riyanto dan bukan seniman lain. “Selain karena sumbangsihnya kepada perkembangan seni rupa keramik, Hendrawan juga adalah seniman performatika. Memang pada JB 2017 ini seni performatika mendapatkan fokus tersendiri.” Jawabnya. Seni performatika Hendrawan adalah upaya meditiatifnya dalam menghayati kebudayaan petani, budaya yang menganggap alam sebagai rekan kerja, bukan sebagai benda ekploitatif. Budaya tradisional bukan hanya menjadi corak pada karya Hendrawan tetap juga menjadi corak kehidupannya.

Garin Nugroho, adik kandung Hendrawan Riyanto, menyusun film tentang kakaknya ini yang ditayangkan bersebelahan dengan karya-karya keramik Hendrawan. Melalui film tersebut Garin juga mengungkapkan kebesaran rasa sayangnya pada sang kakak, hingga karya kakaknya menginspirasinya dalam membuat beberapa film seperti Setan Jawa dan Nyai. Lebih lanjut, film Asal-Usul karya Garin tersebut sedikit menjabarkan rantai inspirasi. Budaya petani Jawa menginspirasi karya-karya Hendrawan, karya Hendrawan menginspirasi Setan Jawa Garin, Setan Jawa Garin menginspirasi komposisi musik gamelan Rahayu Supanggah. Demikian karya yang memiliki semangat selalu akan dapat menginspirasi orang lain untuk berkarya.

Hendrawan tidak sendirian, semangatnya dalam menggunakan kepercayaan tradisional sebagai sumber inspirasi juga dimiliki oleh seniman Indonesia lainnya yang masih aktif berkarya, seperti I Made Djirna yang menghadirkan instalasi batu apung raksasa. Selama tiga bulan[12] ia mengumpulkan, mengukir, dan merangkai ribuan batu apung menjadi berbentuk gua. Di antara batu-batu yang ia rangkai tersebut, terselip sosok-sosok ukiran wajah dalam berbagai ekspresi. Inspirasi utama karyanya adalah kepercayaan Hindu-Bali yang meyakini bahwa setiap benda di alam memiliki jiwa. I Made menganggap perlakuan manusia yang semena-mena terhadap alam saat ini (termasuk juga yang terjadi di Bali) dikarenakan manusia sudah tidak lagi meyakini eksistensi roh alam tersebut. Dalam praktiknya ini, I Made Djirna membuktikan bahwa ia dapat mengemukakan isu kekinian sambil tetap menggunakan unsur-unsur tradisi budayanya.

Unsung Heroes – I Made Djirna

Di negara lain, kepercayaan tradisi yang juga menekankan hubungan manusia dengan alam terdapat pula pada tradisi butoh Jepang[13]. Seniman Chiharu Shiota (Jepang) mengambil tradisi butoh sebagai inspirasi atas karya performatikanya berjudul Bathroom. Dokumentasi performatikanya yang dipajang di Gudang Sarinah menampilkan Chiharu sedang mandi pada bath-tube penuh lumpur. Ia menyiramkan lumpur itu dari kepalanya hingga seluruh badannya dengan tujuan berinteraksi langsung dengan tanah. Dalam tradisi butoh, tanah adalah unsur paling utama dalam alam. Namun saat ini, seberapa seringkah kita melihat tanah? Bukankah yang selama ini kita injak adalah aspal, semen, keramik, marmer, dan bata? Melalui karyanya, Chiharu bermeditasi merasakan kembali interaksi tanah dengan seluruh bagian tubuhnya. Ia tidak hanya menginjak tanah, tapi mengajaknya mandi Bersama, dan bersebadan dengannya.

Bathroom – Chiharu Shiota

Hubungan harmonis antara manusia dengan alam sepertinya hanya ada pada dunia tradisi saja atau sudah lama berlalu di masa lampau. Pada masa kini, hubungan manusia dengan alam seperti hubungan tuan dengan budak, atau seperti hubungan pelaku mutilasi dengan korbannya. Hal inilah yang digambarkan dengan lantang oleh Robert Zhou Renhui (Singapura) dengan instalasi 14 lightbox dengan lebar totalnya lebih dari 14 meter. Robert Zhou membawa panorama penebangan pohon ke depan mata pengunjung Gudang Sarinah dalam ukuran yang nyaris sebenarnya. Pohon tersebut seperti korban mutilasi dan Robert menayangkannya besar-besar seperti kecenderungan orang-orang di sosial media masa kini yang kerap menyebarkan foto mayat korban bencana. Dari judul karyanya, The World Will Surely Collapse, Trying to Remember A Tree, Robert Zhou seakan ingin mendokumentasikan rupa pohon karena melihat pembangunan yang gila-gilaan di seluruh dunia. Bisa saja anak cucu kita kelak tidak lagi pernah melihat pohon dan kita pun kemungkinan akan melupakan bentuknya.

P_20171111_162350 - robert zhou

The World Will Surely Collapse, Trying to Remember A Tree – Robert Zhou

Jadi, seperti apakah seni rupa Indonesia itu sebenarnya? Saya merasa cukup puas menemukan jawabannya melalui hasil pembacaan pribadi saya terhadap pameran JB 2017. Bahwa seni rupa Indonesia adalah seni yang empati, seni yang berpihak pada rakyat, atau kepada mereka yang terpinggirkan. Bahwa identitas seni rupa Indonesia mengakar pada corak tradisi dan kepercayaan nusantara sambil tetap membawa semangat kebaruan yang kontemporer. Akhir-akhir ini ada banyak seniman karya yang enggan membahas permasalahan sosial masyarakat. Ada banyak pula seniman yang meninggalkan corak tradisi nusantaranya dan sepenuhnya berkiblat pada gaya seni Barat. Yang demikian itu belum memiliki identitas (atau jiwa) seni rupa Indonesia.

Merespon Museum di Kota Tua: Membahas Isu Pascakolonialisme

Sungguh Kota Tua itu ramai sekali. Untuk masuk ke Museum Sejarah Jakarta saja ngantrinya Panjang. Saya langsung berpikir pemilihan Kota Tua sesungguhnya sangat pas untuk memperoleh banyak pengunjung. Selain itu, kehadiran JB 2017 di Museum Sejarah Jakarta juga membuka peluang berikutnya bagi perhelatan-perhelatan seni rupa lainnya. Berbagai institusi seni dapat melihat bahwa Museum Sejarah Jakarta ternyata cocok dipakai untuk pemutaran video, seni performatika, bahkan untuk instalasi karya site specific. Dengan diliriknya Museum Sejarah Jakarta oleh banyak institusi seni lain, maka akan ada kemungkinan muncul masukan-masukan baru kepada museum ini untuk lebih berkembang semakin baik lagi.

Suasana Kota Tua Akhir Pekan

Suasana Kota Tua pada akhir pekan

Karya-karya yang dipajang atau dibuat di Museum Sejarah Jakarta sebagian besar membahas isu pascakolonialisme. Ini juga sangat pas karena arsitektur gedung peninggalan penjajah di Kota Tua mendukung narasi karya-karya disana. Memang topik pascakolonialisme sedang marak diperbincangkan di bidang keilmuan budaya dan filsafat. Tak ketinggalan, dunia seni rupa (terutama Asia Tenggara) juga ikut gencar menarasikan efek yang terjadi setelah penjajahan. Membahas pascakolonialisme berarti juga membahas keaslian identitas, karena apa yang hampir selalu dilakukan oleh penjajah adalah mengatur penciptaan dan pengedaran pengetahuan[14]. Memunculkan propaganda, menghasut, membelokkan sejarah, dan menyuntikkan kebudayaan asing ke dalam budaya asli suatu daerah adalah hal yang hampir pasti dilakukan oleh negara pengkoloni.

Hal itulah yang dibahas oleh Mathieu Kleyebe Abonnec (Prancis) dalam filmnya berjudul Sector IX B. Film tersebut menceritakan seorang antropolog fiktif yang melakukan penelitian kolonialisme ke Museum of the IFAN di Dakar dan Museum Quai Branly di Paris[15]. Pada akhir film tersebut, ia menemukan bahwa sejarah yang terkait kolonialisme selalu memiliki lebih dari satu narasi: narasi-narasi kecil dari korban koloni yang dapat disusun menjadi narasi kolektif dan juga narasi yang disusun oleh institusi pengkoloni.

Contoh nyata hal tersebut dapat kita temukan dari perbandingan lukisan Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock karya Nicolaas Pieneman dengan lukisan Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Karya Nicolaas Pieneman adalah contoh narasi sejarah yang disusun oleh institusi pengkoloni. Sebagaimana sudah menjadi populer diketahui bahwa keaslian fakta pada lukisan Pieneman diragukan karena Diponegoro kemungkinan besar dijebak oleh De Kock, bukan menyerahkan diri.

Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock karya Nicolaas Pieneman (kiri) dan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh (kanan)
Sumber: wikipedia.org

Sejarawan Oxford University, Peter Carey, lebih memilih karya Raden Saleh sebagai narasi yang lebih valid. “Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Raden Saleh bukanlah hayalan. Ia mendasarkan karyanya dari cerita saudaranya yang adalah pejabat di Majalengka, juga cerita dari Bupati Magelang, serta dari Babad Diponegoro yang ditulis di Manado. Dan tokoh-tokoh Belanda yang dilukis Raden Saleh sangat sesuai dengan daftar nama pihak yang terlibat dalam tragedi penangkapan itu. Jadi, walau Raden Saleh tidak berada di lokasi penangkapan Diponegoro, bukan berarti dia tidak punya kesempatan untuk menggambarkan fakta.” tutur Peter Carey ketika menjelaskan keakuratan karya Raden Saleh pada saat tur pameran 17:71 Goresan Juang Kemerdekaan tahun 2016. Dari penuturan Peter Carey di atas, kita dapat mengetahui bahwa karya Raden Saleh adalah contoh nyata pengkristalan narasi-narasi kecil masyarakat yang terjajah.

Salah satu seniman Indonesia yang aktif berbicara tentang pascakolonialisme adalah Otty Widasari. Pada karya performatikanya berjudul Ones Who Looked at the Presence ia menampilkan dirinya mempersiapkan peralatan-peralatan berat untuk memutar film arsip tentang Indonesia pada masa penjajahan. Setelah berapa lama film diputar, Otty membakar kain yang menjadi layar proyektor. Penggambaran yang sangat kuat seakan ia ingin menghapus ingatan perih penjajahan dari masyarakat. Namun walau layar proyektor itu dibakar, gambar-gambar suasana penjajahan tetap terlihat dan malah semakin besar karena terproyeksikan ke dinding. Walau nantinya masyarakat Indonesia toh akan lupa ingatan tentang sejarah penjajahan bangsanya, hal-hal negatif efek kolonialisme (mental buruh, korupsi, kesenjangan sosial, sikap kebarat-baratan) akan tetap sangat sulit dihilangkan karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan yang mendarah-daging. Rekaman performatika Otty ditaruh di tempat tersembunyi di belakang meja tiket Museum Sejarah Jakarta.

Ones Who Looked at the Presence – Otty Widasari

Selain membahas pascakolonialisme, pada Museum Sejarah Jakarta juga ada karya yang membahas neokolonisme. Walau negara Arab Saudi tidak pernah dijajah secara langsung, namun kini, menurut seniman Dana Awartani (Arab Saudi), Arab Saudi mengalami gejala-gejala neokolonialisasi. Berkat globalisasi, kehidupan seluruh belahan dunia sudah mulai kebarat-baratan, tidak terkecuali negara Islam seperti Arab Saudi. Neokolonialisasi adalah bentuk penjajahan dengan cara-cara yang lebih halus seperti melalui kebijakan ekonomi, strategi kapitalisme, dan pemaparan budaya populer. Neokolonialisme membuat suatu negara bergantung kepada negara lainnya tanpa menggunakan penjajahan fisik. Dana menggambarkan keadaan neokolonialisme di negaranya melalui dokumentasi performatikanya. Pada karya berjudul I went away and forgot you. A while ago I remembered. I remembered I’d forgotten you. I was dreaming, ia menyapu ornamen-ornamen Islam yang ia buat sangat rapi dengan menggunakan pasir. Aksinya itu menyingkap motif lantai yang sebenarnya, yaitu kotak-kotak khas modernisme Barat. Tepat pada lantai di bawah video performatikanya, Dana juga telah membuat ornamen-ornamen Islam yang sama seluas 11 x 11 meter. Bila lantai tersebut disapu, maka terlihat pulalah motif asli lantai Museum Sejarah Jakarta yang juga bermotif Barat.

I went away and forgot you. A while ago I remembered. I remembered I’d forgotten you. I was dreaming – Dana Awartani. Berikut dengan detil pasirnya (kanan)

Sebenarnya tidak semua negara yang dikoloni mengalami nasib buruk. Amerika Serikat, Australia, dan Singapura adalah contoh pascakolonialisme yang sukses. Dapatkah Indonesia menjadi salah satu negara yang berhasil itu? Saya rasa bisa bila Indonesia secara konsisten dalam waktu yang Panjang dipimpin oleh pemimpin berkarakter kuat dan bijaksana. Soekarno adalah sosok pemimpin yang diidam-idamkan itu. Hingga kini fotonya dipajang di dinding rumah oleh banyak warga Indonesia. Soekarno adalah simbol perjuangan dan kejayaan. Juga simbol harapan karena sosoknya diinginkan kembali. Dolorosa Sinaga membuat simbol itu menjadi lebih hidup. Ia membuat delapan patung Soekarno berukuran tubuh manusia dengan berbagai gesturnya yang khas. Figur-figur Soekarno yang seakan bergerak itu ditaruh di depan pintu masuk Museum Sejarah Jakarta untuk menyambut pengunjung. Gestur patung memang kekuatan utama dari karya Dolorosa. Melalui gestur itu, Dolorosa memperkenalkan Soekarno lebih dalam lagi hingga ke semangatnya. Semoga karya Dolorosa dapat menjadi media penular semangat Soekarno kepada pengunjung.

Patung-patung Soekarno karya Dolorosa Sinaga

Mempertanyakan Kesiapan Publik Dalam Mengapresiasi

“Masa, sih, pamerannya terlalu berat?” Melati Suryodarmo seakan tidak percaya ketika saya menuduh konsep Jakarta Biennale tahun ini akan jauh lebih sulit untuk dipahami oleh orang awam dibandingkan Jakarta Biennale dua tahun lalu. Posisi orang awam sebagai salah satu publik seni rupa di Indonesia memang menarik perhatian saya sejak awal. Tuduhan saya tersebut didasarkan pada komentar beberapa teman yang saya ajak ke Gudang Sarinah untuk menyaksikan JB 2017 sejak pekan pertama. “Ini yang dibahas berat banget. Karya-karyanya kurang eye-catching, pula.” kata mereka. Dan memang saya separuh sepakat. Jika dibandingkan dengan Jakarta Biennale 2015, tema Jakarta Biennale 2017 (JB 2017) ini lebih makro, temanya tidak secara spesifik langsung berbicara tentang isu-isu perkotaan seperti dua edisi Jakarta Biennale sebelumnya. Sejak awal saya berpikir, mungkin bukan karena konsep pamerannya terlalu berat, tapi karena gagasan yang ditawarkan kurang bersentuhan dengan keseharian orang awam.

“Betul, Bu. Itu pendapat teman-teman saya. Dan saya rasa mereka ada benarnya. Apakah Jakarta Biennale kali ini sebenarnya lebih ditargetkan untuk konsumsi para akademisi dan praktisi seni?” saya merespon Melati malah dengan pertanyaan lainnya. “Ah, tidak juga. Justru saya ingin Jakarta Biennale kali ini didekatkan sedekat-dekatnya dengan masyarakat luas. Makanya selain di Gudang Sarinah, Jakarta Biennale kali ini diselenggarakan juga di Kota Tua. Kita tahu disana orang-orang dari berbagai daerah dan dari berbagai latar belakang berkumpul untuk rekreasi. Mereka target publik JB 2017 ini juga. Sedangkan kalau di Gudang Sarinah, yang datang hanya orang-orang yang ingin melihat karya seni saja, kan.” Art Director perhelatan ini mengemukakan jawabannya. Lebih lanjut, ia menambahkan “Kami menggarap pameran ini dengan serius, mulai dari menentukan tema, memilih seniman, hingga memajang karya. Bisa dikatakan semua karya-karya seni disini adalah karya-karya berkualitas tinggi. Seniman-senimannya juga sebagian besar adalah seniman senior. Dan memang harus begitu untuk perhelatan sebesar biennale. Kapan lagi masyarakat Jakarta bisa melihat karya-karya kontemporer berkelas internasional serta perkembangannya kalau tidak dicoba didekatkan seperti ini?”

foto bareng Melati

Bersama Melati Suryodarmo, Art Director Jakarta Biennale 2017

 

Jawaban Melati membuat saya ingin mengecek CV setiap senimannya. Dan ternyata line-up pameris JB 2017 cukup memukau saya. Ada lebih dari lima seniman yang telah menampilkan karyanya di Venice Biennale (pameran dua tahunan tertua dan paling prestisius di dunia), seperti Mathieu Kleyebe (Prancis), Jason Lim (Singapura), Alastair MacLennan (Skotlandia), dan Hito Steyerl (Jerman). Beberapa seniman seperti Arin Rungjang (Thailand), Nikhil Chopra (India), dan Pawel Althamer (Polandia) malah telah ikut berpartisipasi di pameran akbar lima tahunan Documenta. Jajaran seniman asal Indonesia yang terpilih pun hampir semuanya adalah seniman yang benar-benar sudah established. Selain yang sudah dibahas di atas, beberapa seniman Indonesia di antaranya ada Siti Adiyati yang adalah anggota Gerakan Seni Rupa Baru 1975, pionir teater rakyat kontemporer PM Toh, juga seniman multidisiplin Ugo Untoro yang sekaligus mempelopori hypertext di Indonesia. Bahkan Hanafi dan Afrizal Malna yang sudah sering berkolaborasi untuk Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta pun ikut memajang karyanya di JB 2017 ini. Line-up seniman Jakarta Biennale tahun ini memang sangat berbeda dengan Jakarta Biennale 2015 (JB 2015) yang sebagian besar adalah seniman muda. Jadi inilah hasil garapan serius tim artistik, pikir saya.

Namun seakan ingin melengkapi jawaban Melati Suryodarmo, saya pun menanyakan pendapat Vit Havranek terkait tuduhan saya tadi. “Saya rasa publik Indonesia secara umum belum siap untuk mencerna gagasan seabstrak “Jiwa” ini. You know, apa yang dilakukan sebagian besar orang Indonesia ketika datang ke pameran adalah take a selfie and groufie and then just go away.”  Tuduhan saya ini saya dasarkan pada pemandangan yang umum terlihat di Galeri Nasional Indonesia atau bahkan galeri swasta seperti ROH Project dan Dia.Lo.Gue Artspace. “Yah, itu sebenarnya juga terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa. Di Eropa, sering kali pengunjung datang ke pameran hanya untuk melihat-lihat dengan cepat saja, tanpa berusaha memahami maksud karyanya. Bahkan untuk pameran sekelas Documenta 14 yang dikunjungi lebih dari satu juta pengunjung pun demikian. Sebagian besar pengunjung Documenta 14 adalah orang-orang yang hanya ingin melihat pameran skala besar.” Jawab Vit. “Lagi pula kalau memang seseorang ingin memahami karya, ia harus berusaha untuk mencari tahu. Entah itu info tentang senimannya, karya-karya terdahulu dari si seniman, atau bahkan cari tahu tentang isu yang dibahas pada karya. Tidak susah mencari tahu hal-hal tersebut melalui internet.” Ia menambahkan.

Benar juga, pikir saya. Masakan seni rupa Indonesia jadi tidak berkembang hanya karena mengikuti keadaan publiknya yang malas mencari tahu? Lagi pula keadaan publik yang mudah menyerah dalam memahami karya dan konsep pameran adalah karena minimnya infrastruktur edukasi seni rupa di Indonesia. Maka dari itu keadaan ini bukan semata-mata hanya tanggung jawab seniman dan kurator pameran saja, tetapi juga pemerintah, institusi seni, media informasi, dan siapa pun yang peduli pada seni rupa Indonesia. Saya jadi ingat perkataan Aaron Seto, direktur Museum Macan, pada sosialisasi terkait Museum Macan di Art Stage Jakarta 2017. “Indonesia sudah memiliki pasar seni rupa yang baik, begitu pula dengan ekosistem bagi seniman-senimannya. Yang kurang dari dunia seni rupa Indonesia adalah infrastruktur museumnya yang bertugas mengedukasi publik.” Dan menurut saya, edukasi itu tidak hanya dapat dilakukan melalui institusi seperti museum, galeri, atau pun biennale saja. Siapa pun secara perorangan, mau pun dia awam sekali pun, juga bisa menjadi bagian dari sistem edukasi seni rupa. Itu pulalah alasan mengapa saya tetap menulis ulasan singkat karya-karya berbagai pameran dengan Bahasa yang sederhana pada akun Instagram saya.

Tradisi Edukasi Publik Yayasan Jakarta Biennale

Bicara mengenai edukasi publik, Jakarta Biennale sebenarnya sudah melalukan tradisi edukasi seni rupa. Pada edisi 2015, edukasi publik yang khas dilakukan dengan tur pameran sebanyak sembilan kali, pemilihan Duta Seni, dan juga penerbitan buku Seni Rupa Kita. Penerbitan buku Seni Rupa Kita adalah bentuk nyata usaha Yayasan Jakarta Biennale tahun 2015 untuk masuk ke sistem Pendidikan seni rupa sekolah formal, dimana mereka Bersama-sama dengan guru seni rupa dari berbagai SMA merumuskan buku yang berisi pengetahuan dasar tentang seni rupa tersebut. Buku Seni Rupa Kita lantas disebarkan ke berbagai SMA dan kepada para guru seni rupa. Sedangkan Duta Seni Rupa adalah 18 siswa dari 10 SMA hasil seleksi guru-guru seni rupa bersama Yayasan Jakarta Biennale. Mereka diberikan lokakarya intensif dan kesempatan untuk belajar dari beragam praktisi seni rupa hingga akhirnya mereka menyusun program penyebaran pengetahuan seni rupa di sekolahnya masing-masing. Bagi para praktisi seni rupa sendiri, JB 2015 pun mengadakan program edukasi dalam bentuk Curators Lab, dimana para kurator-kurator muda terpilih dari berbagai kota menjalani program berbagai pengalaman dengan kurator yang lebih berpengalaman, termasuk Charles Esche yang adalah kurator utama JB 2015. Setelah itu para peserta Curators Lab pun melakukan sharing session dengan para seniman di kota mereka[16].

Bila tahun ini Jakarta Biennale memilih dua museum di kota tua sebagai upaya mendekatkan seni kontemporer kepada masyarakat luas, sebenarnya JB 2015 pun sudah melakukan hal yang sama dengan rangkaian side event-nya seperti RAOS dan pameran Market Share. RAOS (Roadshow Art on the Spot) adalah serangkaian lokakarya menggambar, membuat mural, kolase, wayang, hingga topeng yang dilakukan di 10 universitas  dan 10 ruang publik di Jakarta termasuk Rusunawa Marunda dan Plumpang Jakarta Utara. RAOS membuka kesempatan bagi masyarakat seluas-luasnya untuk mencicipi praktik seni rupa sederhana. Sedangkan pameran Market Share (diselenggarakan Bersama Goethe Institute) mengambil tempat di Pasar Tebet Barat. 10 seniman dari Indonesia dan Jerman berusaha merespon ruang-ruang pasar tradisional tersebut dengan karya-karya mereka. Hasilnya, pameran site specific tersebut bertemu dengan masyarakat yang tidak mengharapkan akan melihat karya seni disana[17].

Pada JB 2017, walau Curators Lab tidak lagi diselenggarakan dan tur pameran hanya dilakukan pada saat pembukaan, edukasi publik tetap dilakukan dalam bentuk lokakarya, simposium, dan berbagai bincang-bincang terkait praktik seni rupa dan karya. Dan melanjutkan tradisi edisi sebelumnya, tahun ini Yayasan Jakarta Biennale menerbitkan tiga buku penting; Buku Melampaui Citra dan Ingatan yang merupakan kumpulan artikel seni tulisan Bambang Bujono memberi gambaran lengkap tentang peran jurnalisme dalam perkembangan seni rupa Indonesia; Dari Kandinsky Sampai Wianta, kumpulan catatan seni rupa Siti Adiyati, berbicara banyak tentang apa yang terjadi pada masa kemunculan Gerakan Seni Rupa Baru hingga masa sesudahnya. Kedua buku tersebut adalah sumbangsih yang sangat berharga bagi dunia kritik seni Indonesia. Minimnya kritikus seni rupa Indonesia saat ini menurut saya bisa saja karena kurangnya referensi terkait bidang ulas-mengulas seni rupa tersebut. Buku yang terbit paling belakangan adalah Seni Manubilis Semsar Siahaan, berisi catatan harian dan ulasan lengkap tentang seniman sekaligus aktivis sosial ini yang mana pemikirannya sangat memengaruhi seni rupa terlibat di Indonesia hingga kini, walau dirinya sendiri seakan terlupakan. Terlihat pergeseran fokus penerbitan buku Yayasan Jakarta Biennale, dari yang sebelumnya berusaha membentuk generasi pelajar SMA yang melek seni rupa, tahun ini mereka membidik publik yang lebih dewasa. Menurut saya keduanya sama pentingnya.

Selain itu, tahun ini JB 2017 juga menyediakan hadiah yang cukup besar untuk kompetisi blog dan vlog. Ini akan menjadi stimulus yang sangat baik untuk memancing apresiasi terhadap seni rupa. Publik tidak hanya diajak untuk mencerna karya dan pameran JB 2017 tapi juga diajak untuk membagikan apa yang mereka peroleh dalam bentuk tulisan atau video. Hasilnya terlihat cukup bagus. Kompetisi blog diikuti oleh lebih dari sepuluh orang yang berusaha menafsirkan karya, membahas sisi menarik pameran, hingga memperhatikan apresiannya. Beberapa di antara mereka sudah menulis dengan sangat baik seperti kritikus seni betulan.

Bagian Menimbang Kembali Sejarah dan Art Brut juga adalah bagian yang signifikan dalam edukasi publik JB 2017. Sejujurnya saya baru tahu istilah Art Brut (seni alam bawah sadar yang sering diidentikkan dengan orang-orang yang sakit mental) dari JB 2017 ini. Bila pada dunia internasional Yayoi Kusama menjadi bukti nyata manfaat seni bagi kesehatan mental, ternyata Indonesia juga punya Dwi Putro Mulyono (Pak Wi) yang mampu melukis tanpa tidur selama empat hari berturut-turut demi menjaga dirinya tetap stabil dari skizofrenia yang dideritanya[18]. Ni Tanjung beda lagi. Depresinya yang menjadi-jadi malah membuatnya berekspresi mewujudkan rupa ratusan leluhur dengan media batu, kemudian kertas, dan sampah. Walau karya-karya mereka sudah dipamerkan sebelumnya pada beberapa pameran seperti Pameran Karya Lepas L’Art Brut (Surabaya, 2012), Artist From Nowhere (Bali, 2014), dan Outsider Art (Jakarta, 2017), namun kehadiran mereka pada JB 2017 ini tetap penting dalam memantik diskusi di antara publik Jakarta. Terutama jika dikaitkan dengan semangat humanis dan keberpihakan pada yang terpinggirkan sebagaimana merupakan akar semangat kesenian Indonesia sejak dahulu. Melalui bagian Art Brut, JB 2017 mengajak kita untuk lebih peduli terhadap penderita penyakit mental.

Karya-karya Pak Wi (kanan) dan Ni Tanjung (kiri), art brut Indonesia

Pada bagian Menimbang Kembali Sejarah, tiga mendiang seniman Semsar Siahaan, Hendrawan Riyanto, I Wayan Sadra, dan juga legenda hidup Dolorosa Sinaga memperoleh area khusus untuk memajangkan karya-karya, dokumen arsip pribadi, dan juga video tentang mereka. Dolorosa malah meminjamkan seluruh isi studionya untuk dipajang di Gudang Sarinah. Semuanya demi mendekatkan tokoh-tokoh seniman sekaligus aktivis ini kepada masyarakat. Agar siapa pun yang peduli dapat mencari tahu sumbangsih mereka pada seni rupa Indonesia.

P_20171118_184816 - area semsar

Area Semsar Siahaan pada bagian Menimbang Kembali Sejarah

 

Pada akhirnya usaha-usaha edukasi tetap membutuhkan respon dari publiknya. Lantas seberapa pedulikah apresian JB 2017 kali ini? Sesungguhnya selama empat minggu mengamati gerak-gerik pengunjung di Gudang Sarinah, saya menemukan pemandangan yang bagi saya membahagiakan. Pemandangan antri selfie seperti yang biasa terlihat di karya-karya JB 2015 pada JB 2017 kali ini berganti menjadi antri membaca penjelasan karya. Tahun ini saya melihat lebih banyak orang membaca penjelasan karya dibanding yang berfoto pada karya, kebalikan dari tahun 2015. Padahal di JB 2015 lalu pun disediakan penjelasan karya yang sama lengkapnya dengan Jakarta Biennale tahun ini.

Pasukan selfie pada Jakarta Biennale 2015.
Sumber: akun Instagram hitzbiennale

Antri membaca penjelasan karya pada Jakarta Biennale 2017

Banyak yang mulai peduli, pikir saya. Pemandangan tersebut akhirnya mematahkan tuduhan saya kepada Melati dan Vit perihal kesiapan apresian Indonesia dalam menikmati JB 2017 di atas . Jadi, “Apakah publik Indonesia siap mengapresiasi pameran seserius Jakarta Biennale 2017?” Dengan mantap saya menjawab: Ya. Kita semakin siap.

P_20171104_210652 - foto sendiri

[1] Narasi pada bagian Mooi Indie & Persagi di Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia

[2] Siti Adiyati, Dari Kandinsky Sampai Wianta, Jakarta: Yayasan Jakarta Biennale, 2017

[3] Katalog Jiwa: Jakarta Biennale 2017

[4] https://www.whiteboardjournal.com/interview/34541/menegakkan-perempuan-bersama-dolorosa-sinaga/

[5] Katalog Jiwa: Jakarta Biennale 2017

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] http://cz.tranzit.org/en/lecture_discussion/0/2017-10-23/counterplanning-from-the-kitchen

[10] Tulisan Grace Samboh pada pressrelease pameran In Suspense. ROH Project tahun 2017

[11] Katalog Jiwa: Jakarta Biennale 2017

[12] Siaran Seni Kebut Semalam di RuruRadio tanggal 14 November 2017

[13] Katalog Jiwa: Jakarta Biennale 2017

[14] http://ieg-ego.eu/en/threads/europe-and-the-world/postcolonial-studies/harald-fischer-tine-postcolonial-studies

[15] http://en.unifrance.org/movie/40697/sector-ix-b

[16] Katalog Maju Kena Mundur Kena, Bertindak Sekarang: Jakarta Biennale 2015

Menteri Sri Mulyani di Pameran Sketsa Goenawan Mohamad

Jumat malam tanggal 10 Februari 2017 adalah malam yang spesial bagi Dia.Lo.Gue Artspace Kemang. Galeri seni rupa sekaligus tempat nongkrong yang terletak di Jalan Kemang Selatan nomor 99A, Kemang, Jakarta Selatan ini menjadi tempat diselenggarakannya pameran tunggal Goenawan Mohamad bertajuk “Kata Gambar”. Bagi publik seni Indonesia, pameran ini membuktikan produktifitas Goenawan Mohamad ternyata tidak hanya di bidang sastra dan jurnalistik tetapi juga di bidang seni rupa. Karya-karya yang dipajang pada pameran ini adalah 100 dari 200 sketsa dan gambar yang ia ciptakan dalam empat bulan terakhir. Siapa sangka Goenawan Mohamad ternyata sangat piawai dalam menggambar. Salah satu pendiri Majalah Tempo ini biasanya menggambar hanya untuk kepuasannya sendiri. Hobinya dalam membuat gambar sketsa tidak pernah diketahui publik karena ia pun tidak pernah menyimpan hasilnya selama sebelum tahun 2014. Tahun 2014 adalah tahun dimana sketsa karyanya ditampilkan pertama kali sebagai ilustrasi buku kumpulan puisi yang berjudul Don Quixote yang juga adalah karyanya sendiri. Setelah dipengaruhi oleh Nirwan Dewanto, seorang sastrawan yang juga memamerkan karya-karya seni rupanya, Goenawan akhirnya memutuskan untuk berpameran pertama kalinya pada November 2016 di Yogyakarta. Pameran “Kata Gambar” ini adalah pameran seni rupa keduanya.

 

Malam tersebut semakin terasa spesial karena pameran “Kata Gambar” dibuka oleh Sri Mulyani Indrawati. Goenawan mengundang Sri Mulyani bukan sebagai Menteri Keuangan tetapi sebagai pribadi dan sahabat. Sri Mulyani sudah sejak lama mengagumi tulisan-tulisan Goenawan di Majalah Tempo. Begitu juga dengan Goenawan. Ia pun telah lama mengagumi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan yang revolusioner karena telah memulai reformasi birokrasi. Dimulai pada pukul 21:00, pembukaan pameran ini terdiri dari beberapa kata sambutan mulai dari Hermawan Tanzil (pemilik Dia.Lo.Gue Artspace sekaligus kurator pameran “Kata Gambar”), Goenawan Mohamad, dan terakhir dari Sri Mulyani sebelum ia memukul gong yang secara simbolis meresmikan pameran telah dibuka. Pada kata sambutan tersebut Sri Mulyani mengucapkan selamat atas pencapaian Goenawan Mohamad di bidang seni rupa. Ia mengaku terkejut bahwa karya-karya sketsa Goenawan ternyata sama baiknya dengan karya-karya sastranya. Bagi Sri Mulyani, produktifitas Goenawan dalam menciptakan 200 karya dalam waktu empat bulan juga adalah hal yang mencengangkan. Namun baginya, hal yang paling mengesankan dari Goenawan Mohamad adalah konsistensinya dalam menulis yang telah melalui berbagai masa termasuk masa-masa ketika media sangat dibatasi sebelum era reformasi 1998. Memang pada tahun 1994 Majalah Tempo sempat dilarang terbit. Namun waktu itu Goenawan tetap aktif menulis dan bersinar di berbagai media lainnya. Sri Mulyani juga menyatakan kekagumannya atas kualitas tulisan Goenawan yang baginya begitu mendalam dan indah ketika meresponi berbagai permasalahan negeri. “Rasanya di kepala Pak Goen ada prosesor yang dapat terus memproduksi ide kapan saja. Buat saya, Pak Goen adalah mahluk yang luar biasa.” Kata Sri Mulyani disambut tawa hadirin.

 

 

Pada kesempatan tersebut, Sri Mulyani juga mengakui bahwa selama bekerja di Bank Dunia, dirinya juga sering membuat sketsa dengan pulpen untuk membuang rasa bosan dan kantuk di kala rapat mau pun disela-sela pekerjaan lainnya. Sekretarisnya di Bank Dunia merasa tertarik pada sketsa Sri Mulyani dan kemudian menyimpan beberapa sebagai kenang-kenangan.

Pameran “Kata Gambar” terdiri dari tiga bagian berdasarkan tema: gambar sebagai kata yang bisu, wajah, dan grotesk. Ketiganya adalah tema yang unik yang menggambarkan pandangan Goenawan terhadap keberkaryaannya di dunia seni rupa. Pada bagian “gambar sebagai kata yang bisu”, Goenawan membalik proses kerjanya selama mengerjakan sketsa untuk buku Don Quixote. Bila biasanya ia menggambar sketsa untuk mempertegas suasana puisi atau prosa, maka kali ini Goenawan menentukan sajak-sajak sebagi respon atas gambar yang dibuatnya lebih dulu. Jadi pada bagian ini setiap gambar Goenawan selalu disertai dengan potongan syair yang indah. Namun bukan gambarnya yang menghiasi sajak, tetapi sebaliknya.

 

 

Pada bagian “Wajah”, Goenawan memang melukis wajah tokoh-tokoh terkenal mancanegara seperti Pablo Picasso, Lenin, Salvatore Dali, juga tokoh-tokoh dalam negeri seperti actor Slamet Rahardjo, komposer Tony Prabowo, dan penyair W.S. Rendra. Bagi Goenawan, melukis wajah adalah perkara yang sulit karena membutuhkan hubungan yang intim dengan objeknya baik secara langsung atau pun secara intuitif. Menurutnya, setiap seniman seharusnya gentar ketika melukis wajah orang lain karena bisa saja si seniman terjebak pada teknik menggambar dan akhirnya menjadikan seseorang hanyalah sebagai objek belaka.

 

 

IMG_0185

Bagian “Wajah”

 

Bagian yang paling menarik dari pameran ini adalah bagian grotesk. Kata ini berasal dari Bahasa Italia yang merujuk pada gambar-gambar seram, aneh, berwujud setengah abstrak yang ditemukan pada reruntuhan istana Kaisar Nero. Entah bagaimana, unsur-unsur grotesk ini pun ditemukan pada keseharian masyarakat Indonesia. Dalam dongeng-dongeng ia muncul sebagai tokoh antagonis yang buruk rupa, dalam berbagai cerita horror ia muncul dengan wujud kuntilanak dan genderuwo, ia juga ditemukan pada artefak kebudayaan seperti wayang kulit. Goenawan sepakat dengan novelis Umberto Eco: “Kecantikan kadang membosankan. Namun penampilan buruk adalah sesuatu yang tidak terduga dan menawarkan jangkauan kemungkinan yang tak terhingga.”

 

Pameran tunggal Goenawan Mohamad “Kata Gambar” berlangsung dari 11 Februari sampai dengan 5 Maret 2017.

P_20170211_170600

Nuansa Jazz Kedaerahan Indra Perkasa & Gadgadasvara Ensemble

Salihara Jazz Buzz tahun ini kembali mengusung tema Jazz Sans Frontiers atau jazz lintas batas. Seperti tahun lalu, Jazz Buzz 2017 pun menampilkan musisi-musisi yang memainkan persilangan antara jazz dengan genre musik lainnya. Mulai dari progressif-psychedelic-rock, swing a capella, hingga perpaduan musik tradisional Indonesia dengan jazz dapat dinikmati di Teater Salihara bulan Februari ini. Meningkat dari tahun sebelumnya, tahun ini Salihara akan menampilkan enam kelompok musisi bergantian pada tanggal 11-12, 18-19, dan 25-26 Februari 2017.

Salah satu penampil di pekan pertama Salihara Jazz Buzz 2017 adalah Indra Perkasa. Selama ini nama Indra Perkasa sudah tidak asing lagi di dunia jazz Indonesia. Indra adalah musisi sekaligus komposer dan produser. Sebagai musisi ia sudah malang melintang tampil sebagai bassis lepas pada berbagai pertunjukan bersama musisi-musisi jazz senior mau pun dengan sesama musisi muda. Akhir-akhir ini ia pun banyak terlibat dengan grup musik Monita Tahalea, The Nightingale, dalam produksi album Dandelion mau pun di panggung. Selain itu Indra juga diketahui sebagai penata musik film Tabula Rasa tahun 2014. Ini bukan kali pertama Indra Perkasa tampil di Salihara Jazz Buzz. Pada tahun 2015 ia juga tampil bersama Jessi Mates dan Ricad Hutapea. Sebelum itu ia juga pernah tampil sebagai finalis Sayembara Komposisi Musik Baru Berdasarkan Budaya Nusantara tahun 2011 yang juga diadakan oleh Salihara.

Indra Perkasa 1

Indra Perkasa dengan double bass-nya

Tampil pada hari Minggu tanggal 12 Februari 2017 pukul 20.00, Indra mengajak serta delapan musisi lainnya: Dimas Pradipta (drum), Adra Karim (piano & hammond organ), John Navid (xylophone), Dion Janapria (gitar), Windy Setiadi (akordeon), Brury Effendy (terompet), Donny Koeswinarno (seruling & saksofon tenor), Bonny Buntoro (saksofon bariton & clarinet bas), dan Debora Jemadu (vocal). Mereka menamakan diri sebagai Gadgadasvara Ensemble yang diambil dari nama salah satu tokoh spiritual kepercayaan Budhisme. Sepertinya nama tersebut dipakai untuk menekankan unsur etnikal musik yang mereka usung. Memang walau pun seluruh lagu dimainkan dalam kerangka fusion jazz, unsur musik etnik seperti nada-nada pentatonal Bali dan Jawa sangat sering terdengar. Bahkan dari ketujuh lagu yang dimainkan, empat di antaranya, yaitu Cebolang, Lennies Pelog, Totondeng, dan Kiong benar-benar bertema budaya nusantara.

Indra Perkasa 2

Formasi lengkap pada lagu “Totondeng” dan “Kiong”

Gadgadasvara Ensembel membuka pertunjukan dengan lagu gubahan Indra berjudul Maestro. Lagu ini dipakai oleh Riri Riza sebagai soundtrack film dokumenter tentang profil tokoh-tokoh nasional berjudul Maestro Indonesia. Brass section memberi hentakan di awal lagu seperti bunyi sambaran kilat yang kemudian disusul dengan melodi riang dari xylophone John Navid dan petikan gitar Dion. Solo pertama dari Dion berjalan mulus diiringi gebukan drum Dimas Pradipta yang sering kali terdengar seperti meniru bunyi gemuruh petir dan membuat ritme terkesan tertahan-tahan. Setelah solo gitar selesai, giliran Adra Karim dengan hammond-nya melakukan improvisasi. Adra mengawalinya dengan lengkingan panjang kemudian diikuti solo melodi-harmoni yang semakin lincah dan mendominasi. Kelincahan solo Adra semakin memuncak hingga ia terlihat memukul-mukul tuts hammond-nya seperti bermain gendang. Namun ketika penonton masih terkesima dengan klimaks yang diberikan Adra, tiba-tiba hammond Adra terjatuh dan harus ditahan oleh satu tangan agar tidak menyentuh lantai. Adra terpaksa mempersingkat solonya dan ia jadi cuma bisa memainkan harmoni-harmoni panjang karena satu tangannya menahan hammond. Solo Adra pun diakhiri dan disambut tepuk tangan yang meriah dari penonton yang mengapresiasi kepiawaian dan totalitas Adra. Melihat insiden ini, seorang penonton di barisan depan lantas maju ke panggung membantu Adra membetulkan posisi hammond. Kru tiba membantu beberapa detik setelahnya. Setelah itu sisa lagu tersebut diisi dengan melodi tema yang diulang-ulang hingga akhirnya lagu diselesaikan dengan kesan dipersingkat.

Indra Perkasa 4

Lagu berikutnya, berjudul Cebolang, masih merupakan gubahan Indra Perkasa. Lagu ini terinspirasi dari salah satu bab pada Serat Centhini. Maka dari itu, lagu ini sangat didominasi rasa etnik Jawa dan Bali mulai dari melodi awal, brass section, hingga improvisasinya. Lagu dibuka dengan melodi-melodi pentatonal lirih dari piano Adra diiringi gesekan bass yang terdengar parau oleh Indra. Denting xylophone John dan sesekali tabuhan simbal Dimas pun menambah efek mistik pada nuansa lagu itu. Mendadak Dimas menggebuk drumnya dengan cepat dan bergemuruh sebagai penghantar bagi solonya berikutnya yang secara bertahap semakin cepat, kompleks, dan ekspresif. Brass section dengan setia mengiringi solo drum Dimas dengan pendekatan modal pada akord yang tetap. Setelah Dimas menyelesaikan solonya, seluruh anggota ensembel melakukan improvisasi kolektif dengan berpegangan pada kerangka melodi yang diberikan bass Indra. Tanpa kembali ke melodi tema, lagu pun diakhiri dengan kesan seperti tergantung tidak selesai.

Lagu ketiga adalah gubahan Adra Karim berjudul Lennies Pelog. Adra terinspirasi dari permainan Lennie Tristano (seorang pianis bebop Amerika Serikat) dan juga gamelan Bali. Pelog sendiri adalah salah satu tangga nada pentatonis dalam gamelan Bali. Duet saksopon Donny Buntoro dan Donny Koeswinarno membuka lagu dengan memainkan melodi-melodi gamelan tanpa diiringi oleh alat musik lainnya. Lalu tiba-tiba hentakan piano Adra, disusul bassline Indra, dan ritme drum Dimas pun masuk mengubah lagu menjadi lebih terasa bebop. Sepanjang lagu, brass section dan xylophone mendominasi dengan bersahut-sahutan mengulang-ulang melodi tema diselingi dengan gebrakan drum Dimas yang seperti meniru suara cengceng dan bonang. Walau pun komposisi disusun oleh Adra, Gitar Dion adalah satu-satunya yang berimprovisasi panjang di lagu ini. Dion seakan menginterpretasi melodi tema lagu ini sehingga masih sangat terdengar pentatonal dan dipenuhi nada-nada kromatik. Selama improvisasi Dion, Adra kembali memberi sentuhan harmoni dengan Hammond organnya. Namun kali ini tidak seenerjik dan selincah lagu pertama.

Dari tujuh lagu yang dibawakan, tiga di antaranya adalah lagu dengan vokal. Vokalis Debora Jemadu asal Flores muncul sejak lagu kelima membawakan berturut-turut Lucyd Hallucination gubahan Indra Aziz, Kiong, dan Totondeng yang adalah aransemen Indra Perkasa atas lagu tradisional Flores. Tiga lagu terakhir ini lebih bernuansa pop yang tenang dan meneduhkan. Karakter suara Windy yang mezzo-sopran, jernih, dan lembut sangat mendukung pembawaan lagu dan ekspresinya, terutama untuk lagu tradisional daerahnya. Lagu Kiong bercerita tentang seekor burung yang selalu ingat untuk pulang ke sarangnya seberapa jauhnya pun si burung telah terbang. Ini merupakan metafora bagi suku Manggarai Flores agar selalu ingat untuk kembali ke kampung halaman walau telah merantau jauh. Totondeng, lagu terakhir, adalah lagu nina bobo suku Manggarai. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh seorang ayah untuk menidurkan anak bayi yang digendong oleh ibunya. Suatu penggambaran harmonis akan keluarga. Ketiga lagu lembut ini dirasa sangat tepat ditempatkan di akhir pertunjukan karena sebelumnya penonton sudah disuguhkan dengan komposisi-komposisi kompleks.

Indra Perkasa 3

Secara keseluruhan, pertunjukan berjalan sangat baik dan sangat menghibur. Insiden kecil di awal pertunjukan justru menambah bumbu kesan tersendiri bagi penonton karena, toh, setiap pemusik seperti tidak terpengaruh banyak atas hal tersebut. Dan seperti pada setiap akhir pertunjukan Salihara Jazz Buzz, penonton memberikan tepuk tangan sangat meriah sambil meneriakkan permintaan encore. “Lagi! Lagi! Lagi! Encore!” Sukses terus untuk Salihara Jazz Buzz!

 

Pertama Kalinya Menjelajah Art Fair (Art Stage Jakarta 2016 & Bazaar Art Jakarta 2016)

art-stage-art-bazaar

Bulan Agustus 2016 benar-benar bulan seni rupa bagi kota Jakarta. Pada bulan ini, selain diselenggarakan lebih dari 15 pameran seni rupa oleh berbagai galeri dan art space, diselenggarakan pula dua art fair berkelas internasional: Art Stage Jakarta asal Singapura dan Bazaar Art Jakarta yang asli Indonesia. Art Stage Jakarta diselenggarakan tiga hari dari tanggal 5-7 Agustus 2016 di hotel Sheraton Grand Jakarta Gandaria City. Sedangkan Bazaar Art Jakarta diselenggarakan hanya berjarak dua minggu sesudahnya, yaitu tanggal 25-28 Agustus 2016 di Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place. Keduanya adalah art fair dengan model yang sama, yaitu pasar seni rupa dimana puluhan galeri dari berbagai negara berkumpul untuk memamerkan karya senimannya masing-masing dengan tujuan bisnis dan jualan. Karya yang dipamerkan mengambil berbagai wujud mulai dari lukisan, patung, video, instalasi, dan bahkan beragam teknik yang benar-benar baru. Berdasarkan fungsinya, karya yang dipamerkan juga beranekaragam, mulai dari karya seni murni, karya seni dokumenter, karya seni dekorasi, hingga karya seni dengan tujuan campuran.

Ini adalah kali pertama saya menghadiri keduanya dan jujur saja, saya sangat terpukau dengan karya-karya yang ditampilkan. Suasananya yang high-class dan berbagai cerita di baliknya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Pada kedua art fair ini saya melihat bagaimana bentuk hubungan antara kolektor dengan perupa dan galeris, bagaimana kesuksesan perupa Indonesia bisa menembus pasar-pasar seni internasional, dan bagaimana rasanya bila pencapaian perupa diapresiasi selayak-layaknya. Dibandingkan berbagai pameran yang telah saya saksikan sebelumnya, kedua art fair ini benar-benar berada pada kelas yang jauh berbeda.

img_1108

Booth Art Porters asal Singapura pada Art Stage Jakarta 2016

img_0195

Booth Zola Zolu Gallery asal Bandung pada Bazaar Art Jakarta 2016


Membandingkan Kedua Art Fair

Untuk memberikan gambaran yang lebih spesifik terhadap keduanya, berikut adalah tabel perbandingan antara kedua art fair kelas internasional itu:

Art Stage Jakarta 2016 Bazaar Art Jakarta 2016
Penyelenggara Art Stage Singapore (dipimpin oleh Lorenzo Rudolf) & Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel (dipimpin oleh Alexander Tedja).

Fair Director: Leo Silitonga

Harpers Bazaar Magazine Indonesia (dipimpin oleh Indriati Wirjanto).

Fair Director: Vivi Yip

Kurator Enin Supriyanto sebagai kurator art fair. Namun setiap galeri memiliki kurator masing-masing. Tanpa kurator art fair. Karya yang ditampilkan hasil kurasi galeri masing-masing.
Jumlah galeri 49 galeri. 16 galeri Indonesia, 33 galeri luar negeri. 40 galeri. 19 galeri Indonesia, 21 galeri luar negeri.
Edisi ke- Pertama di Jakarta. Namun telah mengadakan enam edisi di Singapura sejak 2011. Delapan sejak tahun 2009.
Luas area penyelenggaraan 2.400 m2 7.500 m2
Luas booth rata-rata ±72 m2 ±73 m2
Luas booth terbesar ±90 m2 (sepuluh booth) ±180 m2 (hanya Zola Zolu Gallery)
Luas booth terbanyak ±75 m2 (21 booth) ±65 m2 (24 booth)
Durasi penyelenggaraan tiga hari (24 jam) empat hari (37 jam)
Total pengunjung edisi kali ini 15.180 orang 45.173 orang
Total pengunjung edisi sebelumnya 40.500 orang (Art Stage Singapore 2016) 31.000 orang (Bazaar Art Jakarta 2015)
Proyek sampingan (acara di luar jualan karya) Pemajangan karya di area mall, diskusi seni, & tujuh special exhibition dari kolektor-kolektor Indonesia, proyek seni, galeri, dan Bekraf. Pemajangan karya di area mall, diskusi seni, special performance dari lima seniman, empat workshop,  dua charity auction, lomba mewarnai dan guided tour untuk anak-anak, & 20 special exhibition dari berbagai galeri, proyek seni, dan Bekraf.

Dari perbandingan di atas dapat terlihat perbedaan skala dari kedua art fair tersebut. Art Stage Jakarta yang merupakan edisi pertama terlihat lebih kecil skalanya dibanding Bazaar Art Jakarta yang telah diadakan delapan kali. Proyek sampingan Art Stage Jakarta memang tidak sebanyak Bazaar Art, durasi penyelenggaraannya juga lebih singkat. Pun luas lokasi penyelenggaraan Art Stage Jakarta ternyata juga lebih kecil jika dibandingkan pesaingnya yang lebih senior itu. Selain lebih besar skalanya, Bazaar Art Jakarta juga jauh lebih banyak dikunjungi. Pengunjungnya dua kali lebih banyak dibandingkan Art Stage Jakarta. Memang harus diakui, dalam mempromosikan acara, Bazaar Art Jakarta lebih gencar dibandingkan Art Stage Jakarta, baik melalui sosial media mau pun media reklame di ruang publik. Ditambah lagi Bazaar Art juga mengadakan proyek-proyek sampingan yang memberikan pengunjung kesempatan untuk berinteraksi dengan pelaku seni seperti workshop (mulai dari melukis self-potrait hingga membuat boneka tangan) dan charity auction (mulai dari lelang merchandise hingga potongan-potongan dari mural raksasa).

Bisa dikatakan Bazaar Art Jakarta adalah art fair yang komplit. Mereka mempromosikan seniman-seniman muda melalui special exhibition Monster In Disguise, Mall-Art, dan Art-mosphere, mereka menyediakan pengalaman mengoleksi karya seni dengan harga terjangkau melalui special exhibition Kecil Itu Indah dan ruang pamer merchandise, mereka mendekatkan seni rupa kepada publik awam dengan special exhibition Dawai-dawai Dewa Budjana dan berbagai diskusi seni. Bahkan untuk anak-anak, mereka menyediakan lomba mewarnai dan guided tour. Semua ini menunjukkan betapa piawai dan berpengalamannya Harpers Bazaar Magazine dalam menyelenggarakan art fair.

img_0003

Diskusi seni bertema “Seni dan Fashion”

perform-bazaar-art

Salah satu special performance dari Fransisca Retno, “Laboratorium Panjang Umur”

Namun Art Stage Jakarta ternyata masih lebih unggul dalam hal mengundang galeri-galeri luar negeri untuk bekerja sama. Jika dibandingkan dengan Bazaar Art Jakarta, Jakarta Art Stage menghadirkan jumlah galeri luar negeri lebih banyak. Kemungkinan besar ini dikarenakan presiden Art Stage Singapore, Lorenzo Rudolf, memiliki reputasi yang gemilang dalam pasar seni internasional. Sebelum menggagas Art Stage Singapore, pada tahun 1991 pria asal Swiss ini pernah menjadi direktur pada Art Basel, salah satu art fair terbesar di dunia. Pada masanya, Art Basel sempat melejit hingga ada 700-an galeri yang mengantri ingin buka lapak pada art fair itu. Keunggulan Art Stage Jakarta lainnya terdapat pada relasinya dengan para kolektor karya seni asal Indonesia. Sebelum diselenggarakan, Art Stage Jakarta membentuk semacam dewan yang beranggotakan kolektor senior dan kolektor muda untuk berperan sebagai steering committe. Di antara anggota dewan tersebut ada Caecil Papadimitriou, Wiyu Wahono, Deddy Kusuma, hingga Ciputra yang merupakan kolektor-kolektor Indonesia yang sangat disegani di dunia seni internasional. Dengan reputasi pimpinan dan jajaran dewan yang luar biasa itu, Art Stage Jakarta seolah-olah sedang bersiap merobohkan dinasti Harpers Bazaar dalam persaingan art fair di Indonesia.

Tidak cukup diberikan peran sebagai steering committe, para kolektor kebanggaan Indonesia tersebut juga diajak ikut meramaikan Art Stage Jakarta dengan adanya dua special exhibition: Affandi-The Human Face dan Collector’s Show-Expose. Pada Affandi-The Human Face, ditampilkan 17 karya-karya Affandi yang belum pernah ditampilkan kepada publik karena setelah selesai dilukis langsung dibawa oleh kolektor. Karya-karya yang ditampilkan dipilih langsung oleh Lorenzo Rudolf bekerja sama dengan balai lelang raksasa dunia Sotheby’s. Pada Collector’s Show-Expose, enam kolektor dari jajaran dewan (Rudy Akili, Wiyu Wahono, Melani Setiawan, Tom Tandio, Alex Tedja, dan Deddy Kusuma) memamerkan masing-masing satu karya koleksi mereka yang mereka anggap paling merepresentasikan diri mereka. Pada pameran inilah peran kurator Enin Supriyanto paling terlihat. Enin menyusun konsep pameran, memilih keenam kolektor yang akan menampilkan karya, dan menata posisi karya pada ruang pamer.

Special exhibition Affandi – The Human Face

Secara pribadi saya lebih senang berada di Art Stage Jakarta dibandingkan di Bazaar Art. Bazaar Art terlalu ramai dikunjungi untuk area seluas 7.500 m2 sehingga ada begitu banyak titik-titik yang penuh sesak. Tidak sebandingnya luas area penyelenggaraan dengan jumlah pengunjung Bazaar Art tersebut menjadikan ada begitu banyak karya dan galeri yang gagal saya nikmati. Bahkan ada banyak lorong antar booth yang sulit dilewati karena para pengunjung mengantri untuk berfoto dengan karya yang dipajang. Seharusnya Bazaar Art menyediakan area penyelenggaraan yang lebih luas lagi bila ingin meningkatkan kenyamanan pengunjung. Sebagai perbandingan, Art Stage Singapore 2016 yang dikunjungi oleh 40.500 orang selama empat hari menyediakan area penyelenggaraan seluas 30.000 m2 di Marina Bay Sands Expo and Convention Centre[1]. Walau jumlah galerinya lebih banyak dan tempat penyelenggaraannya lebih kecil, Art Stage Jakarta masih terasa jauh lebih lapang dibanding Bazaar Art Jakarta karena pengunjungnya hanya setengah dari pengunjung Bazaar Art. Selain itu, Art Stage Jakarta juga memecah area penyelenggaraan menjadi enam bagian pada dua lantai sehingga pengunjung tidak menumpuk di satu atau dua area saja. Berbeda dengan Bazaar Art Jakarta yang hanya membagi area penyelenggaraan menjadi dua bagian pada lantai yang sama.

Saya menjelajahi kedua art fair ini dengan cara yang sama, yaitu dengan mendatangi masing-masing booth secara berurutan, mengamati masing-masing karya sambil memikirkan makna dan fungsinya, lalu mendokumentasikan detil karya dan booth. Saya juga menjelajahi kedua art fair ini dengan durasi yang sama, yaitu masing-masing selama enam jam. Namun pada Bazaar Art Jakarta saya hanya sempat menikmati karya-karya dari 21 galeri dan enam special exhibition, sedangkan pada Art Stage Jakarta saya dapat menikmati 28 galeri dan lima special exhibition.

Beragam Teknik yang Tak Terpikirkan Sebelumnya

Terlepas dari keunggulan dan kelemahan masing-masing art fair, satu hal yang paling saya suka dari keduanya adalah begitu banyaknya teknik berkarya yang ditampilkan dan begitu beragamnya medium karya yang digunakan. Malah ada banyak teknik dan medium yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Rasanya bila kedua art fair itu dinikmati dengan seksama, seorang seniman akan terinspirasi untuk menemukan teknik dan medium baru. Kedua art fair berkelas internasional ini benar-benar bisa menjadi wadah penyaluran pengetahuan dan budaya dari seniman luar negeri kepada seniman Indonesia.

Dari begitu banyaknya karya yang ditampilkan pada kedua art fair tersebut, saya memilih 30 karya yang menurut saya pribadi paling mengesankan dan paling menginspirasi dalam hal inovasi teknik dan medium. Berikut adalah karya-karya tersebut:

  1. Negotiation – Angki Purbandonoimg_1615

Angki melakukan digital scanning pada mainan-mainan yang ia susun lalu ia mencetak hasilnya pada kertas metalik. Karya ini menggambarkan kerjasama antar manusia demi mencapai tujuan. Setiap orang harus rela mengabaikan kepentingannya sendiri demi keberhasilan bersama. Terlihat hewan anjing yang paling bawah sedang bernegosiasi dengan dinosaurus bilamana si dinosaurus bersedia naik ke atas mereka. Karya berukuran 200 x 100 cm ini dipamerkan oleh Mizuma Gallery asal Jepang di Art Stage Jakarta 2016. Selain karya ini, terdapat dua karya Angki lainnya yang juga dipamerkan oleh Mizuma Gallery.

  1. How Can I Ignore This – Arifien Neif

img_0290

Arifien menggunakan medium yang biasa, akrilik pada kanvas berukuran 180 x 140 cm. Namun gaya melukis Arifien sangat khas: kartunis namun menggunakan detil-detil lingkungan sekitar yang memperkuat penceritaan karyanya. Arifien hampir selalu memadukan warna-warna pastel dengan warna-warna kusam. Hasilnya, secara keseluruhan warna lukisannya meneduhkan mata. Biasanya ia menyoroti kisah percintaan modern orang dewasa, kehidupan glamor di perkotaan, dan kadang-kadang juga tentang suasana pariwisata di Bali. Ciri khas unik lainnya dari Arifien adalah sosok wanita utama pada kaya selalu digambarkan berkulit putih, sedangkan sosok pria utama selalu berkulit gelap. Pria berkulit hitam saya tafsirkan sebagai pria lokal Bali, sedangkan wanita kulit putih saya artikan sebagai turis mancanegara. Sering kali Arifien menambahkan unsur seksual seperti pada karya ini. Karya ini laku dijual oleh Zola Zolu Gallery asal Bandung dengan harga Rp.850.000.000,- pada Art Stage Jakarta 2016.

  1. One’s Growth-Cobalt Blue – Kang Kang Hoon

img_0344

Saya sangat senang dengan karya ini karena gaya lukisnya yang hiper-realis. Kang melukis sangat persis dengan objek yang dilukisnya bahkan hingga detil-detil kecil seperti bulu halus, air liur, dan belek mata. Benar-benar seperti karya fotografi kualitas tinggi. Padahal Kang hanya menggunakan medium cat minyak pada kanvas berukuran 162 x 130 cm. Karya Kang selalu mempresentasikan ekspresi-ekspresi manusia, baik yang alami seperti pada karya ini, mau pun ekspresi acting layaknya pemain sandiwara. Karya ini dipamerkan oleh Johyun Gallery asal Korea Selatan pada Art Stage Jakarta 2016. Bagi yang tertarik menikmati karya Kang lainnya, silahkan mengunjungi situs pada kangkanghoon.com.

  1. 7 Java of Durer – Eddy Susanto

7 Java of Durer adalah salah satu special exhibition pada Art Stage Jakarta 2016 oleh Lawangwangi Creative Space asal Bandung. Pameran kecil ini menggunakan satu bilik berukuran 2×3 meter yang diisi dengan dua karya Eddy Susanto: Badak Durer dan Kisah Negeri Ujungkulon. Bilik tersebut dilengkapi dengan lampu ultraviolet yang akan mati dan menyala dalam durasi 2 menit. Pada saat lampu menyala, terlihatlah karya Badak Durer berwujud patung badak jawa berwarna putih sebagaimana yang diimajinasikan oleh seniman asal Jerman Albrecht Durer. Terlihat pula di belakang patung tersebut karya Kisah Negeri Ujungkulon berupa lukisan badak Jawa berukuran 150×180 cm. Namun bila lukisan tersebut diperhatikan detilnya dari dekat, tampaklah lukisan itu ternyata tersusun dari tulisan-tulisan aksara Jawa dalam berbagai ukuran yang disusun sangat rapi dan akurat. Suatu teknik lukis yang luar biasa. Tulisan aksara Jawa itu sendiri bukan asal ditulisi tapi sepenuhnya diambil dari naskah Tanah Ujungkulon pada Babad Tanah Jawi.

img_0391

Badak Durer karya Eddy Susanto

 

img_0430

Kisah Negeri Ujung Kulon karya Eddy Susanto

Namun kemudian, ketika lampu ultraviolet padam, pemandangan ruang kecil itu berubah. Badak Durer tidak lagi berwarna putih namun memancarkan tulisan hijau bercahaya dari seluruh tubuhnya. Tulisan hijau tersebut juga adalah cerita Babad Tanah Jawi dalam aksara Jawa. Kisah Negeri Ujung Kulon pun tidak lagi bergambar badak Jawa namun menampilkan sekumpulan orang dari berbagai negara mengerumuni seorang raja Jawa seperti hendak bernegosiasi. Baik tulisan pada Badak Durer maupun lukisan sekumpulan orang pada Kisah Negeri Ujung Kulon dilukis dengan tinta fosfor sehingga hanya terlihat bercahaya dalam gelap. Khusus pada Kisah Negeri Ujung Kulon, Eddy menggunakan dua lapisan pada kanvasnya. Lapisan pertama digunakan untuk melukis badak Jawa dengan tinta Cina, sedangkan lapisan kedua digunakan untik melukis kumpulan orang dengan tinta fosfor. Patung Badak Durer sendiri dibuat dengan ukuran 60 x 200 x 80 cm dan berbahan dasar fiber.

Badak Durer di dalam gelap

img_0449

Kisah Negeri Ujung Kulon dalam gelap

Saya tercengang sekaligus terharu ketika melihat special exhibition ini dan membaca catatan kuratorialnya. Karya ini menceritakan kisah badak Jawa yang sudah diperdagangkan sejak sebelum masa Rennaisance hingga sampai runtuhnya kerajaan Romawi untuk kepentingan sirkus dan acara gladiator. Pada masa itu hewan ini sudah dikenal sebagai Rhinoceronte de Java (Spanyol) dan Rhinoceros de la Sonde (Perancis) yang keduanya berarti Badak Jawa. Hingga masa modern ini pun badak Jawa masih juga diperdagangkan di pasar gelap sehingga terancam punah dan hanya dapat ditemukan di Ujung Kulon[2].

  1. Mahaki – Shinnosuke Tojo

Mahaki berasal dari bahasa suku Maori dari New Zealand yang artinya tenang. Walau karyanya tidak tampak membahana, namun Shinnosuke menggunakan teknik yang unik. Ia mengaratkan bagian-bagian tertentu dari lempeng besi lalu mengeruk karat tersebut hingga membentuk banyak lekukan-lekukan kecil yang intens. Pada beberapa bagian lainnya dari lempeng tersebut ia sepuhkan tembaga dan emas menyerupai bentuk batang pohon atau daun. Hasilnya, sepuhan emas, tembaga, dan lekuk-lekuk bekas kerukan karat tadi membentuk wujud suatu taman yang tenang. Karena medium utamanya adalah besi, maka lekukan-lekukan tadi memantulkan cahaya yang sebagian ikut bergerak mengikuti pengamatnya dan sebagian lainnya bergerak ke arah yang berlawanan. Suatu pemandangan yang menentramkan. Berikut adalah video tampilan Mahaki:

https://www.youtube.com/watch?v=hDbZlkG6fmI

Karya ini berukuran 144,5 x 91,6 x 1,8 cm. Dipamerkan oleh Cohju Contemporary Art asal Jepang pada Art Stage Jakarta 2016.

  1. Rainbow Rhytm – Yaacov Agam

img_0507

Yaacov Agam adalah seniman terkenal asal Israel yang biasanya berkarya dengan teknik cinetic art (karya seni yang bergerak karena menggunakan motor atau dinamo). Namun sering kali karya-karyanya bersifat eksperimental dan memanfaatkan ilusi mata[3]. Seperti pada karya ini, misalnya. Dibutuhkan partisipasi dari pengamat untuk bergerak sambil mengamati karya sehingga ia dapat melihat perubahan tampilan karya yang sebenarnya hanyalah ilusi mata. Berikut video tampilan karya ini bila dinikmati sambil bergerak:

https://www.youtube.com/watch?v=lgzDKwDJxhY

Medium mirip maket berukuran 200 x 70 cm ini disebut polimorf karena sifatnya yang bisa memiliki lebih dari satu tampilan. Karya ini dipamerkan oleh Bruno Art Group asal Singapura pada Art Stage Jakarta 2016.

  1. The Formula of Contemporary (Visual) Art – Hahan & Uma Gumma

img_0527

Karya ini lebih cocok disebut presentasi mindmap dibanding karya seni. Hanhan dan Uma menuliskan pada salah satu sisi dinding booth Equator Project (galeri asal Yogyakarta) dengan tips dan prinsip berbisnis seni rupa kontemporer. Mereka memberi suatu pengantar dasar bagi pemula sebelum terjun ke dunia art market. Keren dan menambah wawasan. Lebih hebatnya lagi, mereka menyediakan satu flashdisk yang berisi tips komplit yang bisa di-copy bagi siapa saja yang kebetulan membawa laptop.

  1. Manhattan Farms I – Jean-Francois Rauzier

img_1132

Karya ini menggunakan teknik fotografi yang jarang ditemukan di Indonesia: hyperphoto. Sebenarnya ada beratus-ratus foto dalam satu karya ini yang digabungkan dengan sangat halus sehingga menghasilkan sebuah cetakan foto sebesar 140 x 231 cm dengan detil luar biasa. Pada karya ini kita bisa menghitung jumlah orang yang berada di satu gedung dan melihat apa yang mereka lakukan. Kita juga bisa melihat setiap sudut pemandangan di foto ini tanpa menemukan satu titik pun yang buram karena tidak fokus. Tentunya pada karya ini terdapat beberapa editan seperti taman di loteng, aquarium raksasa di dalam gedung, dan taman vertikal setinggi bangunan. Namun lagi-lagi editan itu pun begitu menyatu dengan pemandangan dasarnya.

Saya menafsir karya ini sebagai sindiran terhadap Kota Manhattan yang dahulu terkenal dengan peternakannya namun kini hanya tinggal perkotaan saja yang tersedia sejauh mata memandang. Dipamerkan oleh Villa de Arte Galleries asal Spanyol pada Art Stage Jakarta 2016 dan juga pada Bazaar Art Jakarta 2016. Tampaknya belum ada kolektor yang berminat membeli karya ini.

  1. Rubik’s Explosion – Invader

img_1191

Invader adalah nama samaran seorang seniman asal Perancis yang misterius. Ia selalu mengenakan topeng ketika berjumpa dengan publik dan tak seorang pun tahu siapa dirinya. Bahkan kepada orang tuanya pun Invader mengatakan dirinya bekerja di perusahaan konstruksi[4]. Karya-karya Invader sederhana, berpiksel besar, dan biasanya mengambil tema video game. Invader telah berkarya membuat mural di jalanan ke-65 kota di seluruh dunia[5]. Pada karyanya yang satu ini, Invader menyusun puluhan rubik pada papan sehingga membentuk sebuah gambar ledakan seperti pada game Nintendo jaman dulu. Jadilah sebuah karya berukuran 140 x 159 cm yang diberi judul Rubik’s Explosion. Karya ini dipajang oleh Over The Influence asal Hong Kong pada Art Stage Jakarta 2016.

  1. Hangover Before Seasickness – Ryota Unno

img_1276

Karya-karya Ryota menampilkan cerita komikal dalam satu bingkai. Melihat karya Ryota ibarat membaca manga-strip karena daya imajinasinya yang absurd namun menghibur. Pada karya ini, misalnya, ditampilkan beragam aksi-aksi kocak nan gila dari orang-orang mabuk laut di kapal nelayan juga di dermaga. Kita dapat melihat orang tergantung pada celananya di kail pancingan, orang yang tertidur nungging dengan jaring tertanam di bokongnya, sekaligus kita juga melihat para awak kapal mempersiapkan bekal, awak kapal membuang sake ke laut, dan koki Jepang memasak yakiniku. Ryota menyandingkan humornya dengan kebudayaan Jepang yang tidak lekang dimakan waktu. Karya ini digambar di kertas jepang dengan menggunakan akrilik, pigmen warna iwa-enogu, dan helaian kertas berwarna emas. Dipamerkan oleh Shonnandai Gallery pada Art Stage Jakarta 2016.

  1. With Masterpiece – Kyungoh Kug

img_1370

Kyungoh Kug menemukan style mematung baru setelah menghayati filosofi yin dan yang. Dia menerapkan pertemuan yang negatif dan yang positif dengan memodifikasi ruang tiga dimensi konvensional dalam mematung. Menurutnya, ruang pada patung tidak harus seluruhnya menonjol keluar tapi dapat pula membentuk ruang kosong dengan dibentuk menjorok ke dalam. Pada karya ini, misalnya, Kyungoh membentuk tangan patung menonjol namun bagian badan di atas dan di bawah tangan dibuat menjorok ke dalam. Pada bagian wajah patung, Kyungoh kembali membuatnya menonjol. Kyungoh berharap style seperti ini memberikan nuansa baru dalam menikmati karya patung. Karya berukuran 75 x 23 x 110 cm ini dipamerkan oleh Gallery Apple asal Korea Selatan pada Art Stage Jakarta 2016.

  1. Untitled (Babies) – Sam Jinks

img_1425

Karya ini begitu mempesona banyak orang. Sebuah patung hyperrealist yang betul-betul persis bayi mulai dari ukuran hingga ke pori-pori dan rambutnya. Karya ini disusun oleh silikon, diwarnai dengan pigmen, menggunakan resin pada matanya, dan untuk rambut, Sam memakai rambut manusia asli. Berukuran 36 x 36 x 18 cm, karya ini dipamerkan oleh Sullivan + Strumpf asal Australia pada Art Stage Jakarta 2016.

  1. Boys Balancing The Knowledge – Yinka Shonibare Mbe

img_1438

Yinka adalah seniman asal Nigeria yang lumpuh sebelah badan. Dalam mengerjakan karya-karyanya yang sering kali berukuran besar, dia harus dibantu oleh beberapa orang asisten. Walau demikian, ia tidak pernah menganggap kekurangannya tersebut sebagai alasan untuk setengah-setengah dalam berkarya. “Dalam membuat bangunan, arsitek tidak pernah berpikir apakah bangunan tersebut harus mampu dia dirikan seorang diri atau tidak.” kata Yinka[6]. Karya Yinka sebagian besar menyoroti isu-isu budaya sebagai identitas serta problema-problema paska-penjajahan. Seperti pada karya ini, Yinka hampir selalu menggunakan warna-warna cerah motif pakaian masyarakat Afrika. Dari karya ini saya merasa mendapat sebuah nasehat dari Yinka. Yinka seolah berkata walau otak manusia yang seluas angkasa mampu menerima ilmu sebesar apa pun, hati manusia sering kali tidak siap. Manusia selalu mudah sombong karena pengetahuan yang ia miliki dan sering kali karena kesombongan itu, manusia terjatuh hingga akhirnya merugi. Agar pengetahuan yang kita miliki tidak membuat keadaan kita oleng, kita harus gunakan pengetahuan tersebut sebagai penunjuk jalan bagi orang lain yang membutuhkan. Karya ini berukuran 156 x 94 x 120 cm. Ditampilkan oleh Pearl Lam Galleries asal Hong Kong pada Jakarta Art Stage 2016.

  1. A Hundred Flowers Contended In Beauty – Zhu Jinshi

hundred-flower-contended-in-beauty-jun-zhi-shi

Zhu Jinshi adalah salah satu pionir seni rupa abstrak di China. Pengalamannya berkarya selama lebih dari 40 tahun mengantarkannya pada teknik baru dengan menggunakan gumpalan cat minyak yang sangat kental dan tebal seperti pada karya ini. Tampaknya Zhu tidak hanya menggunakan kuas tapi juga sendok semen. Bila karya ini diperhatikan baik-baik, terlihat Zhu tidak hanya mengoles gumpalan cat minyak itu tapi juga mengaduk, mengocok, mengecor, bahkan menumpahkannya. Teknik ini muncul sebagai respon Zhu atas terbatasnya ruang dua dimensi pada kanvas yang datar[7]. Hasilnya, suatu sensasi baru dalam menikmati karya dua dimensi dengan unsur tiga dimensi sekaligus. Melalui karya ini saya melihat bahwa tidak selamanya indah ketika setiap unsur warna bersaing untuk tampak. Kita dapat melihat banyak gumpalan hitam atau kusam di berbagai titik karya yang tercipta atas bentrokan warna-warna. Begitu pula saya rasa yang akan terjadi pada masyarakat atau organisasi. Ketika setiap pihak ingin terlihat menonjol, akan muncul berbagai konflik yang justru tampak jelek. Karya berukuran 180 x 160 cm ini juga dipajang oleh Pearl Lam Galleries pada Jakarta Art Stage 2016.

  1. Aggregation 16 – Chun Kwang Yong

aggregation-chun-kwang-young

Satu lagi karya unik yang dipamerkan Pearl Lam Galleries pada Jakarta Art Stage 2016. Berukuran 185 x 155 cm, karya ini tersusun dari potongan-potongan plastik berbentuk prisma segi tiga dalam berbagai ukuran yang dibungkus lembaran-lembaran buku tua. Plastik yang dibungkus kertas tersebut terlihat seperti obat tradisional Korea jaman dulu yang digantung dengan tali pada langit-langit ruang praktik dokter. Aggregation memperlihatkan kekacauan sekaligus harmoni, keberagaman sekaligus kesamaan, seperti terlihat pada masyarakat negara mana pun[7].

  1. Harmony In Diversity – Edwin Rahardjo

img_0290

Tradisi dan teknologi dapat bersatu padu menghadirkan harmoni jenis baru. Itulah kesan yang saya tangkap ketika melihat karya seni kinetis ini. Karya ini secara mandiri dapat memainkan empat komposisi musik gamelan yang digubah oleh Hendricus Wisnu Groho. Edwin menyusun karya ini dari alat musik gender dan bonang dengan ornamen-ornamen yang tersusun dari duralium, kulit, kayu, kuningan, dan cat akrilik. Di atas alat musik gender terlihat ornamen berbentuk gunungan, suatu wayang yang menggambarkan gunung dan rumah. Berikut adalah video bagaimana karya ini melantunkan salah satu tembang:

https://www.youtube.com/watch?v=CZX1-sGNxTs

Karya ini dipamerkan oleh Edwin’s Gallery (galeri milik Edwin Rahardjo) sebagai salah satu special exhibition pada Bazaar Art Jakarta 2016.

  1. Animal Kingdom – Rocka Radipa

img_1449

Special exhibition lainnya oleh Edwin’s Gallery adalah pameran bertajuk Kecil Itu Indah. Menampilkan karya-karya berukuran kecil dengan harga terjangkau (tidak lebih dari 10 juta Rupiah). Salah satu karya pada pameran tersebut adalah tiga etsa berjudul Animal Kingdom karya seniman muda Rocka Radipa. Etsa (etching) adalah teknik seni rupa mengukir logam dengan air keras. Teknik ini membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian tinggi sehingga tidak semua seniman dapat melakukannya, apa lagi sampai terlihat sangat detil seperti karya ini. Berbahan dasar lempeng kuningan, masing-masing karya ini hanya berukuran 35 x 25 cm saja.

  1. Pusat Bandar Utara Selayang, 160531 – Hings Lim

img_1497

Hings Lim adalah seniman muda asal Malaysia. Ia baru sekali berpameran tunggal pada 2016 di Kuala Lumpur. Pada Bazaar Art Jakarta 2016, Richard KOH Fine Art menampilkan tiga karya dari pameran tunggalnya tersebut. Sebenarnya bukan Hings Lim yang melukis karya ini, tetapi para anak-anak pada pemukiman pengungsi di Pusat Bandar Utara Selayang, Selangor, Malaysia. Hings Lim hanya menyusun konsep media, menyediakan peralatan, mengarahkan anak-anak untuk melukis, dan mendokumentasikan kegiatan tersebut. Media lukisnya memang biasa, yaitu cat akrilik pada kanvas berukuran 150 x 110 cm. Namun Hings menentukan alat lukis yang tidak biasa: roda sepeda. Hings mengaku terpukau dengan reaksi anak-anak pengungsi ketika mereka melakukan kegiatan asing yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya tersebut. “Saya dapat melihat perbedaan goresan ekspresi yang dibuat oleh pengungsi dewasa, pekerja buruh lokal, dan dengan yang dibuat oleh anak-anak pengungsi. Namun semuanya mengarah pada satu gaya lukis abstrak ekspresionis.” Kata Hings Lim[8]. Hings berkata 20% dari hasil penjualan karya-karyanya akan disumbangkan kepada PBB sebagai bentuk kepedulian sosial[9].

  1. Proud – I Nyoman Masriadi
    proud-i-nyoman-masriadi
    Karya ini dipajang pada special exhibition Sotheby’s Hong Kong Autumn Sale 2016 Preview di Bazaar Art Jakarta 2016. Masriadi merupakan pelukis yang mulai kondang sejak Soeharto lengser. Dia disebut-sebut sebagai pelukis Bali pertama yang melepaskan diri sama sekali dari tradisi seni rupa Bali[10]. Karena gaya lukis karikatur dan ide berkaryanya yang lucu-segar-mengena, karya-karyanya kini diburu oleh berbagai kolektor internasional. Karya-karya Masriadi selalu menyoroti kebiasaan dan perilaku sosial di masyarakat. Isu yang disorotinya jarang merupakan isu besar tapi lebih kepada kehidupan sehari-hari yang relevan di berbagai negara. Seperti pada karya ini, dia menyoroti sikap orang kantoran yang sering kali bangga karena kesibukannya mengabdi pada atasan dan perusahaan. Karya ini menggambarkan seorang pegawai dengan setumpuk tugas-tugas di tangannya berkata “I’m still proud for myself.” Padahal, jika dipikir-pikir, ada lebih banyak peluang keberhasilan dari sekedar menjadi pegawai kantoran. Ciri khas lainnya dari karya Masriadi adalah seringnya ia menambahkan kalimat humor cerdas dalam balon ucapan (seperti pada komik). Ia secara konsisten pula menggambarkan orang berkulit gelap atau hitam legam sebagai tokoh utama karyanya yang kini banyak ditiru oleh pelukis-pelukis yang lebih muda. Menurut penilaian Sotheby’s, karya ini akan laku dilelang dengan kisaran harga US$ 258.000 (Rp.3.391.410.000,-) sampai dengan US$ 387.000 (Rp. 5.087.115.000).
  1. Blueming – M. Reggie Aquara
    img_0660

    Bila melihat karya ini, orang dapat dengan mudah menebak bahwa sebagian besar cara pembuatannya tidak menggunakan kuas tetapi dengan mengoleskan cat minyak ke kanvas langsung dari tube-nya. Hasilnya, lukisan ini tersusun dari garis-garis ekstra tebal dan menonjol yang dihasilkan gumpalan cat minyak tersebut. Karya ini merupakan contoh karya dengan tujuan dekorasi. Pemirsa tidak perlu menerka maknanya tapi cukup menikmati keindahannya. Karya dyptich (dua karya sebagai satu kesatuan) berukuran total 200 x 240 cm ini dipamerkan oleh Art:1 Gallery dari Jakarta pada Bazaar Art Jakarta 2016.

  1. A La Carte – Mark Justiniani
    img_0114

    Menurut saya karya ini adalah karya yang paling menarik pada Bazaar Art Jakarta 2016. Mengambil rupa sebuah gerobak bakso, seniman Mark Justiani asal Filipina menyandingkan kesederhanaan pasar di jalan dengan gemerlapnya pasar seni di art fair. Karya ini seolah-olah menggabungkan kedua pasar tersebut yang dahulu dibeda-bedakan berdasarkan hirarki nilai (art fair tentunya dianggap lebih berkelas dibandingkan angkringan makanan di jalanan). Berdasarkan apa yang tertulis pada catatan kuratorial, Mark ingin memberi gagasan bahwa di era globalisasi saat ini hirarki nilai mulai kabur. Yang sederhana dan biasa bisa menjadi komoditas pada pasar yang high-class. Barang-barang yang dahulu dianggap mewah sudah mulai dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah. Terlepas dari maknanya, saya juga sangat terkesan dengan bentuk karya ini. Di setiap ruang pada gerobak, Mark menaruh benda-benda seperti telur, patung orang, panah, dan rantai di antara instalasi cermin yang berhadapan. Salah satu cermin tersebut adalah cermin dua arah (yang biasa dipakai pada ruang interogasi kepolisian). Hasilnya, pemirsa dapat melihat penggandaan bayangan benda sampai tidak terhingga. Ilusi ini membawa pemirsa seperti melihat ke dalam sumur atau ke lorong-lorong gelap tak berujung. Special exhibition A La Carte ini dipamerkan oleh The Drawing Room Contemporary Art asal Filipina.

  1. Berebut Benar (Who’s Right?) – Antoe Budiono
    img_0402
    Hyperrealist asal Kota Malang ini belajar melukis secara otodidak. Untuk menciptakan karya yang seperti fotografi itu, Antoe mencungkil cat akrilik pada lukisannya yang sudah jadi dengan pisau silet untuk memunculkan kembali warna putih kanvas. Ia mencungkil cat tersebut kecil-kecil namun banyak dan menyeluruh pada setiap bagian lukisan sehingga menghasilkan detil pencahayaan yang tidak dapat dilukiskan dengan cat putih dan kuas. Jadi sebagian besar warna putih yang ada pada lukisan Antoe merupakan warna kanvas, bukan warna cat[11]. Bayangkan betapa lama dan telatennya proses berkarya Antoe dalam mengerjakan satu karya. Karya ini sendiri berbicara soal kebiasaan masyarakat saat ini yang semakin tertutup pada tindakan koreksi dari orang lain atas sikap dan perbuatannya. Sebagian besar orang pada masyarakat saat ini cenderung merasa superior dan menolak untuk dipersalahkan walau pun sering kali sudah jelas terbukti salah seperti kedua tokoh pada karya ini yang masing-masing secara salah mengenakan alas kaki di atas kepalanya namun tetap saja saling berebut benar. Karya berukuran 225 x 125 cm ini dipamerkan oleh Equator Project pada Bazaar Art Jakarta 2016.
  1. Airyn Amami – Marledy Kadang
    img_0412
    Marledy merasa seniman-seniman saat ini sangat mengagung-agungkan kanvasnya. Padahal, menurut Marledy, tidak hanya kanvas saja yang berjasa dalam proses kreasi tapi juga palet cat. Tanpa palet cat, pelukis tidak akan dapat melukis dengan maksimal. Akhirnya Marledy membuat dua palet cat besar berukuran total 182×217 cm sebagai media melukisnya menggantikan kanvas[11]. Menurut tafsiran saya, Marledy ingin mengibaratkan laut sebagai wanita. Indah namun sensitif. Harus dijaga, dirawat, dan perlu diberi perlakuan khusus. Karya ini ditampilkan oleh Art Xchange Gallery asal Singapura pada Bazaar Art Jakarta 2016.
  1. Hills And Valleys – Arie Smith
    arie-smith-hills-and-valleys
    Merupakan hal yang tidak terduga bagi saya dapat melihat karya Arie Smith di Bazaar Art Jakarta 2016. Sejak dulu saya memang sudah mengidolakan Arie karena gaya melukisnya yang ceria dengan warna-warna cerah, seperti lukisan anak-anak, namun menampilkan detil yang menakjubkan. Selama 40 kali berpindah-pindah tempat tinggal di Bali demi melukis, ia selalu merekrut anak-anak berbakat untuk diajari berkarya. Hasilnya, gaya melukis Arie yang merupakan pengembangan dari teknik pointilis ini menjadi suatu pergerakan seni rupa yang menginsipirasi gaya lukis banyak seniman muda di Bali. Aliran Young Artist. Begitu orang lain menyebutnya[12]. Bersama dengan karya I Nyoman Masriadi dan puluhan karya lainnya, karya ini akan dijual pada Sotheby’s Hong Kong Autumn Sale 2016 tanggal 3 Oktober 2016 dengan kisaran harga US$ 64.470 (Rp.843.000.000) sampai US$ 90.258 (Rp.1.180.000.000).
  1. Lotus Vanity – Carine Leroy-Braham


    Karya tryptich (tiga karya sebagai satu kesatuan) ini terbuat dari aluminium di dalam kotak kaca. Carine memakai tengkorak sebagai simbol insting manusia terhadap kematian, sedangkan teratai sebagai simbol semangat hidup. Tengkorak yang ditumbuhi teratai merupakan penggambaran Carine terhadap keseimbangan kedua kutub tersebut. Menurut Carine, kehidupan yang harmonis akan terjadi ketika kedua kutub tersebut menemukan keseimbangan. Ketidakseimbangan antara kedua kutub tersebutlah yang menghasilkan sebagian besar kejahatan, konflik, dan permusuhan yang terjadi saat ini dalam masyarakat[13]. Sepertinya Carine melihat suatu kecenderungan dimana keseimbangan kedua kutub tersebut semakin lama semakin menghilang. Ini digambarkan dengan tenggelamnya patung tengkorak secara perlahan. Semangat hidup tanpa kesadaran akan hari kematian adalah suatu kesia-siaan. Lotus Vanity dipamerkan oleh Lawangwangi Creative Space pada Bazaar Art Jakarta 2016.
  1. Letters From Far Away – Harits Rasyid Paramasatya
    img_0919
    Karya ini adalah hasil residensi Harits di La Rochelle, Perancis, tahun 2016 atas dukungan BaCAA (Bandung Contemporary Art Award)[14]. Saya rasa karya ini lebih berbentuk seni sastra dibandingkan seni rupa. Melalui belasan lembar surat dan lampirannya, Harits menceritakan seorang bernama Djati yang adalah saudara jauhnya di Perancis. Djati tanpa sengaja terlibat Festival Pemuda dan Pelajar Dunia tahun 1965 dan pemerintah Indonesia mengira dirinya termasuk anggota PKI. Karena hal ini, ia memberi masalah besar bagi keluarganya di Indonesia. Saking besarnya masalah tersebut, keluarga Djati sampai memutuskan hubungan dengannya dan berhenti membiayai kuliahnya. Djati kemudian berhenti kuliah karena tidak ada biaya dan ia melanjutkan hidupnya sebagai pekerja di toko souvenir. Bertahun-tahun kemudian keadaan hidupnya membuat Djati frustasi hingga akhirnya ia ditemukan meninggal di kamar apartemennya. Saya menduga Djati bunuh diri, walau petunjuknya sangat kecil mengarah kesitu. Surat-surat Djati dan orang-orang lainnya begitu menyentuh dan menyiratkan kesedihan. Namun ketika saya mulai terhanyut, tiba-tiba seorang penjaga galeri di samping saya berkata “Mas, ini hanya cerita fiksi.” Saya terkejut. Kemudian penjaga galeri Lawangwangi Creative Space itu menjelaskan maksud dari karya, yaitu memberitahu publik bahwa sejarah sebenarnya sangat mungkin untuk diubah dengan kekuasaan dan sumber daya. Seperti pada karya ini yang sebenarnya fiksi namun bisa terlihat seperti fakta karena adanya dokumentasi yang tampak riil.
  1. Phainesthai – Laurent Lafolie
    phainesthai-laurent-lafolie
    Karya ini tersusun dari berlembar-lembar kertas Jepang kozo washi yang sangat tipis (20 gr/m2) dimana padanya dicetakkan gambar-gambar yang bila disusun akan menjadi gambar wajah pria dan wanita. Kertas-kertas kecil itu lalu digantung di tembok dengan semacam peniti sehingga bila tertiup angin akan melambai-lambai lembut dan indah. Efeknya, gambar wajah pria dan wanita tersebut akan hilang dan timbul sebagian bila dilalui oleh orang. Perhatikan video berikut:


    Phainesthai  adalah kata dari Bahasa Yunani yang berarti muncul atau terlihat. Melalui karya ini, Laurent ingin bereksperimen dengan apa yang tampak dan apa yang tidak tampak. Ia ingin menunjukkan bahwa apa yang tidak kelihatan dapat memberikan sumbangsih bagi wujud yang terlihat[15]. Karya ini dipamerkan oleh Lawangwangi Creative Space asal Bandung pada Bazaar Art Jakarta 2016.

  1. Various – Willy Rojas

    Willy Rojas adalah seniman fotografi kontemporer asal Kolumbia. Dia memadukan mainan orang-orangan kecil dengan benda-benda yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari untuk menghadirkan pemandangan artifisial (buatan) yang tenang sekaligus menghibur. Melihat karya-karya Willy seakan membaca komik atau seperti melihat best-cut dari suatu film kartun. Kumpulan karya-karya ini terdiri dari 20 foto cetakan dengan resin dimana masing-masing berukuran 35 x 52 cm. Ditampilkan oleh Villa del Arte Galleries asal Spanyol pada Bazaar Art Jakarta 2016.

  1. Candi Kembar (Twin Temple) – Rinaldy A. Yunardi
    img_0357

    Karya ini mungkin adalah satu-satunya karya yang bukan berasal dari seniman seni rupa pada Bazaar Art Jakarta 2016. Rinaldy adalah perancang aksesoris dan perhiasan yang telah malang melintang sejak 1996[16]. Pada karya ini Rinaldy merancang sebuah miniatur candi yang ditutupi oleh puluhan kaca mata lalu diberi pencahayaan yang berubah-ubah warnanya. Silahkan lihat video berikut:

    https://www.youtube.com/watch?v=OazqySv3gF8

    Dalam mewujudkan karya ini Rinaldy bekerja sama dengan Optik Seis dan perusahaan konsultan cahaya asal Jakarta, Ligthworks.

  1. Identification Object Series – Dedy Sufriadi

    Seniman Dedy Sufriadi biasanya berkarya abstrak-setengah-mural dengan tampilan karya seperti coretan-coretan pada papan tulis di sekolah. Namun pada Bazaar Art Jakarta 2016, Artemis Art asal Malaysia menampilkan karya Dedy yang merupakan karya dekoratif. Identification Object Series mengambil rupa kerupuk dan rumput yang disusun dari ber-tube-tube silikon yang  ditempel pada kanvas. Tampaknya Dedy langsung menuangkan silikon dari tube-nya ke kanvas sambil mengarahkan tube tersebut agar silikon membentuk objek yang ia inginkan. Dedi memilih rupa kerupuk karena baginya kerupuk sangat merepresentasikan rakyat Indonesia[17]. Karya yang berbentuk kerupuk ukurannya 140 x140 cm sedangkan yang  berbentuk rumput ukurannya 120 x 120 cm.

Misi Sampingan Membumikan Seni Rupa

Sebagaimana diketahui bersama, Indonesia bukanlah negara yang mayoritas masyarakatnya mengapresiasi seni rupa pada kesehariannya. Jika dibandingkan dengan Amerika, negara-negara di Eropa, atau negara-negara powerful Asia (seperti China dan Jepang), Indonesia tentulah masih kalah jauh dalam hal konsumsi karya seni. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Artprice (artprice.com), dari 100% transaksi karya seni di seluruh balai lelang dunia pertengahan tahun 2016 ini, China memimpin di puncak dengan menguasai 35,5% transaksi, disusul oleh Amerika di peringkat kedua (26,8%), dan Inggris pada peringkat ketiga (21,4%). Pada laporan Artprice tersebut, Indonesia tidak terlihat berada pada peringkat berapa dunia karena hanya termasuk dalam “transaksi lainnya” sebesar 5,3%[18].

Namun bukan berarti Indonesia tidak memiliki potensi sama sekali dalam pasar seni rupa. Tahun lalu di Asia Tenggara, Indonesia adalah negara dengan transaksi seni terbesar karena memegang 70% transaksi. Transaksi terbesar kedua Asia Tenggara berada di Filipina dengan hanya sebesar 7% saja[19]. Pertumbuhan transaksi seni di Indonesia sudah mulai bergejolak kembali sejak tahun 2011 dimana pada tahun itu transaksi karya seni Indonesia meningkat 34% dari tahun sebelumnya. Suatu angka pertumbuhan transaksi paling besar pada tahun itu jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya[20]. Bukti paling nyata atas besarnya potensi Indonesia dalam pasar seni rupa adalah meningkatnya total nilai transaksi Bazaar Art Jakarta dari 45 milyar Rupiah tahun lalu menjadi 104 milyar Rupiah tahun ini[21]. Padahal Indonesia pada semester pertama kemarin bisa dikatakan sedang dilanda kemerosotan pertumbuhan ekonomi. Keadaan ekonomi dan munculnya saingan baru dari Singapura nampaknya sama sekali tidak mempengaruhi jumlah transaksi Bazaar Art Jakarta yang justru meningkat lebih dari 100%. Memang sejak tahun 2011 pasar seni Indonesia, bersama dengan pasar-pasar seni negara Asia lainnya, tidak terpengaruh oleh gejolak krisis ekonomi dunia.

Bagaimanapun juga, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat dunia. Setiap negara yang berjumlah penduduk besar setidaknya sudah memiliki satu modal utama dalam transaksi, yaitu pasar. Hanya saja, pasar Indonesia belum dioptimalkan karena cuma segelintir orang Indonesia saja yang bergairah mengapresiasi karya seni rupa. Atas dasar itulah kedua art fair ini, selain berjualan karya, juga melaksanakan misi sampingannya, yaitu membumikan seni rupa. Berbagai side project seperti diskusi seni, special exhibition yang menjual karya-karya berharga terjangkau, hingga kegiatan seni untuk anak-anak dilakukan demi mendekatkan lebih banyak lagi masyarakat Indonesia pada dunia seni rupa dengan segala kegiatannya. Membumikan seni rupa bisa dibilang adalah investasi jangka panjang kedua art fair ini di Indonesia. Sekarang saja transaksi Art Bazaar Jakarta mencapai 104 milyar Rupiah. Bayangkan jika hampir seluruh masyarakat Indonesia melek seni rupa dan melakukan transaksi, pasti keuntungan art fair tersebut akan semakin menjadi-jadi.

Kita sepatutnya bersyukur kedua art fair ini punya keinginan untuk membumikan seni rupa di Indonesia. Hal ini sebenarnya sejalan dengan apa yang dilakukan Kemendikbud, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), dan berbagai dewan kesenian daerah. Bisa dibilang, walau bermotif bisnis, kedua art fair ini juga membantu usaha pemerintah dalam pengembangan seni dan budaya di Indonesia. Bila seni rupa semakin membumi, semakin sejahtera pula kehidupan para seniman. Kehidupan seniman yang semakin sejahtera akan mengundang lebih banyak orang untuk masuk sebagai praktisi di dunia seni. Semakin banyak orang kreatif masuk ke dalam dunia seni, semakin besar pula manfaat yang dapat diperoleh publik dari produk dan aktifitas seni. Manfaat seni yang dimaksud tentunya tidak hanya dalam sisi bisnis dan investasi saja melainkan juga dalam sisi kemanusiaan, sosial, dan kebudayaan.

Saya senang sekali tahun depan kedua art fair tersebut masih akan diselenggarakan. Saya berharap Art Stage Jakarta semakin memperbesar skalanya pada edisi 2017 mendatang. Saya juga berharap kedua art fair tersebut diselenggarakan pada bulan yang berbeda untuk menghindari kejenuhan publik. Tampaknya hal ini sudah dipikirkan oleh Lorenzo Rudolf karena Art Stage Jakarta 2017 sudah ditetapkan tanggal penyelenggaraannya sejak dini, yaitu tanggal 11-13 Agustus 2017[22]. Tinggal Bazaar Art Jakarta sajalah yang perlu menyesuaikan waktu agar lebih strategis.

Akhir kata, saya sangat bersyukur dapat menghadiri keduanya tahun ini. Rasanya seperti ingin bersorak kegirangan. Terima kasih banyak, Art Stage Jakarta dan Bazaar Art Jakarta.

border

[1] Luas Marina Bay Sands Expo and Convention Centre dapat dilihat pada tautan berikut: http://www.marinabaysands.com/expo-events-and-convention-centre/plan-an-event/exhibitions.html

[2] Andonowati, Catatan kuratorial “7 Java of Durer”, Lawangwangi Creative Space, 2016.

[3] Morris Shapiro, “Yaacov Agam – 21st Century Jenius”, Park West Gallery, 2010.

[4] Wawancara The Talks dengan Invader pada tanggal 1 Maret 2014. Dapat dilihat pada tautan berikut: http://the-talks.com/interview/space-invader/

[5] Qi Lou,  “Game’s on to save Space Invaders art”, The Standard, 2014.

[6] Wawancara Lucy Wilson dengan Yinka Shonibare pada tahun 2003. Dapat dilihat pada tautan berikut: https://www.a-n.co.uk/p/63550

[7] Katalog Pearl Lam Galleries untuk Art Stage Jakarta 2016.

[8] Wawancara Richard KOH Fine Art dengan Hings Lim pada tahun 2016. Dapat dilihat pada katalog pameran “Reciprocity” pada tautan berikut: http://rkfineart.com/wp-content/uploads/2016/08/RKFAHings_Reciprocity_cp.pdf

[9] Wawancara Yohanes Pangaribuan dengan Hings Lim pada Bazaar Art Jakarta 2016.

[10] Artikel “Indonesia Artist Masriadi Slays Ogres, Cuts Batman Down to Size” pada situs Bloomberg bulan Agustus 2008. Dapat dilihat pada tautan berikut: http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=newsarchive&sid=al0KnMb3Vgu4&refer=muse

[11] Penjelasan salah art-dealer Art Xchange Gallery pada Bazaar Art Jakarta 2016.

[12] Annemarie Hollitzer, “Painter in Paradise”, Asiafoto Picture Library. Dapat dilihat pada tautan berikut: http://www.asiafoto.com/article1.htm

[13] Asmudjo J. Irianto, Catatan Kuratorial Pameran Tunggal Carine Leroy-Braham di Lawangwangi Crative Space, 2015.

[14] Penjelasan seorang penjaga galeri Lawangwangi Creative Space pada Bazaar Art Jakarta 2016.

[15] Penjelasan pada situs pribadi Laurent Lafolie. Dapat dilihat pada tautan berikut: http://laurentlafolie.photography/index.php/informations/about

[16] Situs pribadi Rinaldy A. Yunardi. www.rinaldyayunardi.com.

[17] Artikel Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 12 Agustus 2015. Dapat dilihat pada tautan berikut: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/galerinasional/2015/08/12/inspirasi-kerupuk-pada-karya-seni-abstrak/

[18] Thierry Ehrmann, “Defying All Forecasts… China Upped 18%, Dominated The Global Art Market In The First Half of 2016”, artprice.com, 2016. Dapat dilihat pada tautan berikut: http://www.prnewswire.com/news-releases/artpricecom-defying-all-forecasts-china-upped-18-dominated-the-global-art-market-in-the-first-half-of-2016-588103612.html

[19] Aryo Wisanggeni, “Kolektor Seni, Kian Jeli dan Bertaji”, Harian Kompas tertanggal 28 Agustus 2016.

[20] Thierry Ehrmann, “Art Market Trends 2011”, artprice.com, 2012.  Dapat diunduh pada tautan berikut: http://imgpublic.artprice.com/pdf/trends2011_en.pdf

[21] Dian Yuliastuti, “Labu Totol Yayoi Kusama pun Masih Terbeli”, Majalah Mingguan Tempo edisi 11 September 2016.

[22] Informasi dari situs resmi Art Stage Singapore. http://www.artstage.com/

 

 

 

 

 

Mengobrol Dengan Bahasa Musik Bersama Tesla Manaf

Jazz, menurut  Andrew Gilbert, adalah genre musik yang unik karena mampu menyerap pengaruh genre musik apa saja dan menjadikan pengaruh tersebut sebagai bagian dari dirinya. Menurut Idang Rasjidi, lagu apa saja, baik itu bergenre rock, dangdut, atau  musik tradisional nusantara dapat diubah menjadi lagu jazz. Dengan kata lain, jazz adalah jenis musik yang sangat terbuka terhadap kreasi sebebas apa pun. Sifat yang sangat terbuka tersebut menjadikan banyak karya musik jazz, dalam perkembangannya kini, berpotongan dan berbatasan dengan genre-genre musik lain dari seluruh dunia. Sekarang, setiap orang dapat menemukan musik jazz apa pun yang sesuai dengan seleranya. Hal inilah yang akhirnya diangkat sebagai tema dari Salihara Jazz Buzz 2016: Jazz Frontier yang diselenggarakan pada 20-21 & 27-28 Februari 2016. Setelah dibuka dengan seminar musik oleh Tjut Nyak Deviana Daudsjah tanggal 17 Februari silam, perhelatan tahunan ini akan menampilkan empat kelompok musisi yang tidak hanya mengusung genre jazz namun juga beragam rupa aliran musik hasil persilangan seperti rock progressive dan neo-classical.

Salah satu penampil yang paling ditunggu pada Salihara Jazz Buzz 2016 adalah seorang gitaris muda kelahiran Bandung yang telah merilis album mancanegara perdananya di Amerika, Tesla Manaf. Tesla yang tampil pada Minggu malam (21/2) lalu tidak mengisi panggung di Ruang Teater Salihara seorang diri. Bersamanya tampil pula tiga musisi muda lainnya: Desal Sembada (drum), Rudy Zulkarnaen (bass elektrik), dan Hadis “HulHul” Hendarisman (klarinet dan seruling). Formasi tersebut merupakan formasi full-team Tesla saat rekaman album A Man’s Relation With His Fragile Area yang dirilis via MoonJune Records tahun 2014 lalu. Bersama formasi ini pula Tesla akan melakukan serangkaian tur ke empat kota di Jepang bulan Maret nanti. Pada malam pertunjukan, panitia menjual CD album A Man’s Relation bersama dengan album It’s All Yours dalam bentuk satu keping CD. Dengan membeli album tersebut, penonton berkontribusi dalam mewujudkan tur konser Tesla Manaf ke Jepang.

20160221jb77

Dari kiri ke kanan: Hadis Hendarisman, Tesla Manaf, Rudy Zulkarnaen, dan Desal Sembada

Begitu memasuki ruang pentas, penonton langsung merasakan keunikan pada panggung Tesla. Posisi drum ditempatkan di bagian kanan-depan panggung dan diatur mengarah ke tengah panggung. Posisi yang tidak biasa karena normalnya drum berada di panggung bagian belakang dan mengarah ke depan panggung. Alhasil, selama pertunjukan drummer menghadap ke arah Tesla dan membelakangi penonton. Pemain klarinet dan bass juga mengambil arah hadap yang serupa – tidak menghadap ke arah penonton namun ke tengah panggung – sehingga dari bangku penonton keempat musisi tersebut terlihat seperti tengah asyik berdiskusi dimana Tesla sebagai pusat perhatiannya.

20160221jb78

20160221jb51

Tata panggung yang unik dari Tesla Manaf dan band

Pertunjukan dimulai dengan sahut-menyahut antara keempat instrumen pada lagu Chin Up. Lagu yang diambil dari album A Man’s Relation With His Fragile Area ini memberi kesan lucu yang unik karena seperti memperdengarkan berbagai potongan theme song film dari berbagai masa. Baru saja pertunjukan dimulai, kesan jazz frontier-nya sudah langsung terasa. Lagu yang awalnya dibuka dengan sahut menyahut jazz tune tersebut mendadak berubah menjadi lagu pop bernuansa musik Espanyola yang penuh semangat dimana Tesla merambas gitarnya mengiringi lengking dan liukan klarinet HulHul. Mendekati akhi lagu, Chin Up akhirnya kembali berubah menjadi jazz namun dengan sedikit aroma ritme musik Bali. Komposisi yang berubah-ubah memang menjadi keahlian Tesla. “Bagaikan mendengarkan serangkaian puzzle suara” komentar Dan Burke pada cover album A Man’s Relation With His Fragile Area. Dari 10 lagu yang ditampilkan pada pertunjukan di malam itu, lima di antaranya diambil dari album A Man’s Relation.

Penampilan Tesla dilanjutkan dengan lagu kedua, Counting Miles & Smiles. Pada lagu ini Tesla memberikan pola perubahan komposisi yang sedikit berbeda dari Chin Up. Alih-alih dari slow ke enerjik, Counting Miles & Smiles dibuka dengan tema yang bersemangat namun kemudian mendadak menjadi musik lembut bertempo moderate dengan tiupan klarinet HulHul yang diberi sentuhan nada khas seruling Sunda.

Pemilihan lagu Chin Up dan Counting Miles & Smiles yang bersemangat sebagai pembuka konser terasa sangat tepat. Kedua lagu tersebut mengantarkan penonton pada rasa ingin tahu terhadap komposisi dan improvisasi berikutnya. Lagu berikutnya, seperti Moving Side, Tales From The Undeniable Thought, dan Necropilia, walau tidak segemerlap Chin Up, tetap mengusung tema-tema dinamis dan berubah-ubah. HulHul sendiri pada lagu Moving Side berganti-ganti instrumen musik dari klarinet ke seruling Sunda. Solo-solo seruling Sunda HulHul terasa tercekat dan terseret-seret seperti mengekspresikan kesedihan. Namun masing-masing solo sedih tersebut segera ditimpali oleh petikan dan gebukan tempo cepat yang terkesan tidak serasi oleh Tesla dan Desal. Performance tersebut seakan-akan menggambarkan kealpaan respon kita ketika dibutuhkan oleh sesama.

Sesi pertama pertunjukan diakhiri dengan lagu The Sweetest Horn bernuansa musik marching band dan theme song pantomin. Pada bagian tengah lagu hingga akhir, seraya tempo lagu diperlambat, dapat dirasakan pula sedikit aroma musik Arab pada permainan klarinet HulHul dan sensasi pop akustik pada petikan gitar Tesla.

Sesi pertama berlangsung sangat kaya warna musik dari berbagai belahan dunia dan masa. Warna-warni tersebut seluruhnya dapat ditampung dalam konsep blue note dan sinkopasi yang merupakan prinsip-prinsip dasar jazz. Walau dalam hasil wawancaranya dengan Whiteboard Journal Tesla tidak mengakui dirinya sendiri sebagai musisi jazz karena hanya sedikit saja melakukan improvisasi spontan selama pertunjukan, daya eksperimentasi komposisi dalam lagu-lagunya saya rasa membuatnya pantas disandingkan sejajar dengan musisi jazz pada umumnya. Bila musisi jazz pada umumnya melakukan improvisasi pada saat penampilan, Tesla juga sebenarnya melakukan improvisasi. Hanya saja improvisasi Tesla sudah dilakukannya sejak awal saat penyusunan komposisi.

Daya kreasi eksperimentasi sangat terlihat dalam lagu pembuka sesi kedua, Unpopping Confetti, dimana Tesla merekam secara live permainan gitarnya sendiri lalu menimpa hasil rekaman tersebut dengan permainan gitar lainnya. Tesla menciptakan banyak layer suara yang saling menimpa. Awalnya layer-layer suara tersebut saling bertabrakan dalam hal harmoni. Namun Tesla terus menerus menciptakan layer lainnya dan menggantikan layer suara yang lama. Perlahan-lahan, terlihat pergerakan harmoni suara dari yang tadinya chaos menjadi enak didengar. Dalam format yang berbeda, daya eksperimentasi Tesla juga terlihat dalam lagu berikutnya, After Her. Bedanya, bila pada lagu sebelumnya Tesla bermain sendiri, pada After Her Tesla kembali mengajak tiga musisi lainnya untuk kembali bergabung di atas panggung. Eksperimen dilakukan secara kolektif dan mengusung subgenre avant-garde jazz.

20160221jb11

Tesla Manaf saat memainkan Unpopping Confetti

Tanpa terasa penonton telah disuguhkan pertunjukan musik extraordinary selama hampir satu setengah jam. Bila pertunjukan dibuka dengan lagu yang megah penuh semangat seperti Chin Up, maka pada penutupan Tesla telah menyiapkan Ufuk Timur dan Where Are We Now yang tak kalah menarik. Serangkaian tema jazz, pop, dan slow rock silih berganti kembali terdengar pada kedua lagu terakhir tersbut. Mereka kembali memadukan kombinasi lengkingan klarinet dan rambasan gitar namun kali ini dengan lebih lembut dan syahdu.

Bila ditelaah lebih lanjut pada album A Man’s Relation, sebagaimana dijelaskan pula oleh Dan Burke, dapat diketahui bahwa konsep kreasi utama Tesla adalah mengkonversi kata-kata, kalimat, atau diskusi yang diucapkan menjadi nada, ritme, dan harmoni. Petunjuk terkait hal tersebut sudah disusun oleh Tesla pada track pertama album A Man’s Relation. Lagu dengan judul yang sama dengan judul albumnya tersebut hanya berdurasi 44 detik dan memperdengarkan cerita dari seoarang penyiar radio dan alunan gitar Tesla yang ritmenya disamakan dengan pengucapan setiap suku kata si penyiar radio. Nada yang dipilih Tesla juga agaknya disesuaikan dengan intonasi  ucapan si penyiar. Bila mengaitkan konsep konversi tersebut dengan posisi para musisi di panggung, maka dapat dikatakan sepanjang waktu pertunjukan musik sebenarnya Tesla sedang mengobrol dengan tiga musisi lainnya. Setiap solo yang dilontarkan salah seorang dari mereka selalu ditimpali dengan solo dari yang lainnya sebagai penggambaran gagasan demi gagasan yang dibahas dalam diskusi. Tesla dan teman-temannya berdiskusi bersama dalam bahasa musik. Anehnya, walau diskusi tersebut tanpa ungkapan verbal sama sekali, setiap penonton yang mengikuti jalannya pertunjukan tetap dapat menikmati dan mendapat gambaran terkait jalannya diskusi. Inilah keunikan musik sebagai bahasa yang universal. Karya musik yang digubah dan ditampilkan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi suatu gerbang transendensi menuju keadaan emosi komposer.

 

Pengalaman Luar Biasa di Jakarta Biennale 2015

IMG-20160109-WA0011

Jujur saja, ketika pertama kali masuk ke dalam ruang pamer Jakarta Biennale, sebagai orang awam di dunia seni, saya berpikir bahwa pameran dua tahunan binaan Dewan Kesenian Jakarta ini dikerjakan asal jadi. Maklum saja, selama menyaksikan pameran seni rupa, saya selalu berada di ruangan bersih, rapi, dan tenang seperti pada Galeri Nasional Indonesia, Galeri Cipta TIM, atau seperti Galeri Salihara. Sangat berbeda dengan suasana pada Gudang Sarinah yang jauh dari kesan bersih dan rapi.  Ditambah lagi begitu banyak hiruk-pikuk suara dari berbagai karya yang menjadikan ruang pamer tersebut lebih mirip bengkel dari pada galeri. Tanpa membaca kuratorial terlebih dahulu, saya malah berpikir “Apa kepanitiaan pameran ini kekurangan donatur?”

Namun lambat laun saya semakin menyadari betapa luar biasanya konsep pameran ini. Dikarenakan jarak tempat tinggal saya sangat dekat dengan Gudang Sarinah, saya dapat menyempatkan diri setiap minggu untuk datang menyaksikan pameran, rangkaian acara, dan segala kedinamisannya. Rangkaian acara Jakarta Biennale 2015 membuka pikiran saya tentang peran seni rupa yang sesungguhnya, yaitu sebagai media dan alat komunikasi untuk mengutarakan gagasan-gagasan yang bertujuan untuk memancing nalar dalam mencari solusi atas permasalahan di sekitar kita. Untuk hal ini, saya sangat berterima kasih kepada tim kurator muda yang telah bersedia menjadi guide dalam sesi-sesi Tour Bersama Kurator. Berkali-kali saya terpesona terhadap penjelasan yang disampaikan oleh Om Jimpe, Mas Benny, Kak Irma, dan Mbak Riska tentang konsep pameran dan makna berbagai karya.

Melalui penjelasan para kurator muda tersebut saya jadi paham bahwa konsep tata ruang pameran dirancang untuk menggambarkan kota Jakarta dengan jalan raya sekaligus jalan tikusnya. Beberapa karya berada dalam bilik kayu yang mulus, melambangkan perumahan-perumahan warga elit. Beberapa karya lainnya berada dalam bilik kayu berbungkus seng tua, melambangkan perkampungan kumuh yang terpinggirkan. Beberapa karya juga diletakkan di tengah-tengah gudang tanpa bilik, melambangkan ruang publik seperti taman atau alun-alun. Selain itu saya jadi mengerti pula dengan salah satu tujuan Jakarta Biennale, yaitu mendekatkan masyarakat luas dengan kegiatan seni rupa. Atas dasar tujuan inilah akhirnya pameran sengaja diadakan di dalam gudang agar pameran dapat lepas dari citra high-class dan akhirnya dapat dinikmati oleh semua kalangan.

JB

Hadirin pameran saat sesi Tur Bersama Kurator

Karya-karya Dinamis

Secara khusus saya senang dengan pameran ini karena menghadirkan beberapa karya yang dinamis. Karya-karya yang berkembang dari hari ke hari sehingga pemaknaannya dapat diambil penuh bila mendatangi Gudang Sarinah beberapa kali. Karya-karya dinamis tersebut adalah:

  1. Rumah Ibu – Tisna Sanjaya

20160117_161012

“Rumah Ibu” adalah salah satu karya utama pada pameran ini. Karya ini mengisahkan tentang daerah pertanian di Cigondewah, Jawa Barat yang ingin digusur demi pendirian pabrik pelastik. Karya yang semula berbentuk berbakul-bakul biji-bijian, tanah, dan pohon-pohon kecil yang tersusun rapi dan asri dalam petakan pelastik, dari minggu ke minggu berubah-ubah menjadi semakin kacau dan berantakan. Kini di dalam petakan pelastik tersebut tinggal berupa tanah yang berserakan. Biji-bijian yang semula tersusun rapi kini sudah berada di luar petakan pelastik dan dipakai untuk melukiskan pose seseorang seperti hendak memberikan perlawanan.

20160117_161154

Saya membaca perubahan pada karya “Rumah Ibu” ini sebagai penggambaran kondisi sosial warga Cigondewah yang ingin mempertahankan daerah pertaniannya dari penggusuran. Keadaan yang semula tenteram, lambat laun semakin meresahkan, hingga akhirnya menimbulkan kekacauan dan perlawanan dari warga.

  1. Syntax System – Peter Robinson

20151213_120700

Dalam “Syntax System”, pengunjung adalah senimannya. Setiap dari kita bebas menggunakan ratusan potong kain felt dengan berbagai bentuk dan ukuran untuk membentuk suatu wujud sesuai keinginan kita. Peter Robinson menyediakan lantai yang dikelilingi box putih sebagai area bermain dan berkreasi para pengunjung. Sudah sewajarnya karya ini selalu berubah-ubah karena pengunjung berikutnya selalu dapat meneruskan atau merubah karya pengunjung sebelumnya.

  1. Menggantung Air – Firman Djamil

20160117_160814

Karya yang satu ini memang sedikit jauh dari kata “indah” namun ternyata kaya akan makna. Firman Djamil melontarkan kritik terhadap pembangunan perkotaan yang tidak ramah lingkungan dengan menciptakan instalasi kantung-kantung air dari kelapa yang tergantung-gantung pada batang bambu. Kantung-kantung air ini akan menampung air hujan dan embun di pagi hari sebagai simbol warga pedesaan yang dengan mudahnya dapat memperoleh air dari alam. Memperoleh air dari alam adalah sesuatu yang akan semakin sulit dilakukan di Jakarta karena penggunaan airnya yang serba berlebihan dan pembangunannya yang memperkecil area resapan air.

Instalasi itu sepenuhnya berasal dari bahan-bahan organik sehingga lambat laun akan kembali menjadi tanah dengan sendirinya. Kritik terhadap pengrusakan lingkungan harus dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan pula.

  1. Sembarang Kota – Dea Widya

20151119_131917

Dea Widya melambangkan keadaan sosialitas masyarakat di Jakarta dengan tanah berbentuk bangunan-bangunan perkantoran yang serba kotak dalam kolam berisi air. Sebagaimana bangunan serba kotak yang minim sosialisasi antar bangunan, begitu pula keadaan sosial masyarakat Jakarta. Keadaan sosial tersebut tidak akan bertahan lama dan malah akan merusak diri sendiri. Sebagaimana bangunan tanah liat yang perlahan-lahan hancur dan lebur karena berada dalam kolam air, demikian pula warga Jakarta perlahan-lahan akan merasakan berbagai dampak negatif dari kondisi sosial yang serba cuek dan mementingkan ego sendiri.

  1. Masa Depan Tenggelam Dalam Masa Silam – Setu Legi

20151117_141607

Instalasi barrel-barrel dengan berbagai ornamen kepala manusia dan tengkorak melambangkan penderitaan masyarakat Indonesia, khususnya di daerah eksploitasi sumber daya energi. Bukannya mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan SDA di tanahnya, mereka malah menanggung kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perusahaan-perusahaan pertambangan yang secara berlebihan melakukan eksploitasi.

20151129_112151

Namun lambat laun, setelah berminggu-minggu masa pameran, dari tanah-tanah di atas barrel yang semula hanya terdapat ornamen kepala, kini tumbuh tanaman padi. Saya membaca perkembangan ini sebagai optimisme sang seniman dalam menghadapi permasalahan. Walau masalah sedemikian pelik, setiap dari kita masih bisa berharap selama kita giat menggiring semangat dalam usaha menemukan solusi. Harapan selalu dapat tumbuh di tengah persoalan apa pun. Itulah makna utama yang saya tangkap dari karya ini.

  1. The Natural Rights – Juan Perez Agirregoikoa

HATE

Yang saya soroti dari karya ini bukan “The Natural Rights” secara keseluruhan, namun salah satu sub-karya berbentuk spanduk bertulisan “Hate” yang tersamarkan dengan berbagai warna. Tulisan “Hate” ini awalnya sangat sulit untuk dilihat, kecuali dengan menggunakan selembar pelastik berwarna merah. Namun mendekati masa-masa akhir pameran, warna-warna yang menyamarkan tulisan “Hate” tersebut menjadi luntur sehingga tulisan tersebut kini dapat dengan jelas dibaca.

20160117_161325

Perubahan ini, bagi saya, menggambarkan bagaimana kebencian dalam komunitas yang semula dapat ditutup-tutupi dan disamarkan akhirnya akan terungkap juga seiring berjalannya waktu. Kebencian yang semula hanya dapat dideteksi dengan instrumen tertentu seperti wawancara dan pengamatan gerak-gerik, suatu saat akan muncul dengan jelas sebagai suatu tindakan konkret.

  1. Jakarta Really Really Free Market – Post Museum

20160117_162100

Ide kreatif kelompok bernama Post Museum ini mengambil wujud suatu lapak yang dapat digunakan bagi setiap pengunjung untuk berbagi dan mengambil apa yang dibutuhkan. Selain menggugah kesadaran akan pentingnya berbagi, karya ini dapat menjadi indikator tingkat keegoisan suatu komunitas atau populasi. Berkali-kali saya mengunjungi lapak tersebut, yang saya saksikan hanyalah orang-orang yang mengambil barang dari sana. Tidak pernah saya saksikan ada seseorang yang menaruh barang di lapak tersebut sebagai tindakan berbagi. Lapak yang semula ramai oleh mainan, pakaian, dan berbagai pernak-pernik, kini sudah nyaris kosong. Hal ini dapat menunjukkan bukti nyata betapa tingkat keegoisan masyarakat di Jakarta sangat tinggi.

20160117_162109 

 

Konsep yang Benar-benar Baru

Semakin kagum pula saya ketika Om Jimpe berkata bahwa di seluruh dunia, konsep pameran seperti ini baru pertama kali diterapkan di Jakarta Biennale 2015. Om Jimpe mengaku mengetahui ini dari seniman-seniman asal Turki yang mengutarakan rasa kagumnya ketika ikut berpartisipasi dalam persiapan pameran. Menurut seniman-seniman Turki tersebut, pameran dua tahunan biasanya dihadirkan dengan kemewahan yang high-class. Sangat berbeda dengan konsep merakyat yang diterapkan di Jakarta Biennale.

Selain itu, menurut mereka, karya-karya yang dipilih juga sangat pas. Tidak terlalu sederhana hingga akhirnya diabaikan dengan mudah, namun juga tidak terlalu rumit hingga akhirnya tak terbaca oleh publik. Di berbagai pameran internasional sekalipun, banyak karya-karya yang hanya dapat diungkapkan oleh seniman, namun tidak dapat dirasakan oleh publik. Menurut para seniman asal Turki, karya-karya pada pameran Jakarta Biennale 2015 ini jauh dari keadaan seperti itu.

Seniman-seniman lain dari Eropa juga sempat mengutarakan rasa irinya kepada Om Jimpe. Mereka iri dengan suasana kepengurusan pameran di Indonesia yang sangat ceria dan santai. “Mereka terkejut. Di Indonesia, pameran dipersiapkan dengan ketawa-ketiwi penuh canda, namun hasilnya beres dan bagus.” Demikian yang diutarakan Om Jimpe. Suasana seperti itu ternyata tidak terdapat dalam kepanitiaan pameran di Eropa dimana hampir setiap pameran digarap dengan sangat serius. Kepanitiaan pameran di Eropa ternyata sangat menuntut kesempurnaan sampai-sampai tidak mentolerir adanya kesalahan sedikitpun. Hal ini kemudian menghadirkan suasana yang serba kaku selama persiapan pameran yang jika dibandingkan dengan suasana persiapan Jakarta Biennale, tentunya menjadi sangat jomplang.

Hangatnya suasana persiapan pameran di Indonesia ini merupakan modal kuat bagi perkembangan kesenian di Indonesia. Suasana hangat dan kondusif akan mendukung kerja sama antara art-handler, kurator, dan para seniman sehingga masing-masing jadi memiliki peluang besar dalam memaksimalkan potensinya. Hangatnya suasana persiapan pameran juga dapat menjadi pupuk semangat bagi para seniman Indonesia untuk terus berkarya. Imbasnya, pameran di Indonesia jadi memiliki peluang yang besar pula untuk terus bermunculan dan berkembang. Dan bisa jadi, dari berbagai pameran yang akan muncul berikutnya akan lahir karya-karya yang diakui di pasar seni internasional.

Kurator Irma

Kak Irma sedang memperkenalkan berbagai karya kepada tamu dari British Council


Kemenangan-kemenangan Kecil

Benar apa yang dikatakan oleh Kak Irma pada salah satu sesi Tour Bersama Kurator bahwa kita tidak memiliki kuasa yang cukup untuk mengatasi setiap persoalan hidup. Namun setiap usaha kita dapat memberikan kemenangan-kemenangan kecil yang bila dikumpulkan akan dapat menjadi sebuah kemenangan besar.

Strenkali

Stren Kali Surabaya

Dalam Jakarta Biennale, terdapat pula dokumentasi dari usaha mendapatkan kemenangan besar melalui kemenangan-kemenangan kecil tersebut.  Salah satu contohnya adalah  masyarakat Stren Kali Surabaya yang berhasil terhindar dari penggusuran setelah melakukan usaha bersama membersihkan dan merawat sungai tempat mereka tinggal sehingga bersih dan layak huni. Mereka memang tidak bisa melegalkan kampungnya sendiri. Namun usaha pembersihan dan perawatan yang mereka lakukan  memperoleh kemenangan-kemenangan kecil yang akhirnya menjadi kemenangan besar: ijin untuk tetap tinggal.

Begitu juga dengan apa yang didokumentasikan oleh Renzo Marten di Kongo, Afrika. Dalam videonya Renzo mengajak masyarakat disana untuk memanfaatkan kemiskinan mereka agar memperoleh pendanaan dari berbagai NGO karena merasa bantuan dari PBB tidak pernah akan cukup untuk memajukan kondisi ekonomi disana. Walau pada akhir video gagasan Renzo Marten belum terlihat memeroleh kemenangan besar, namun prosesnya masih terus berlanjut. Selama gagasan tersebut terus dilakukan, ditambah dengan melakukan gagasan-gagasan positif lainnya, niscaya suatu saat masyarakat Kongo akan memeroleh kemenangan besar pula.

Jakarta Biennale mengajarkan masyarakat untuk tidak menyerah berusaha. Setiap dari kita sebenarnya memiliki potensi-potensi untuk mengatasi persoalan dengan berbagai cara. Memang pada beberapa permasalahan tidak ada cara yang simpel dan mudah. Namun setiap usaha pasti akan menghasilkan kemenangan-kemanangan kecil yang tidak akan sia-sia. Manusia tidak pernah hidup sendirian. Usaha yang kita lakukan juga tidak akan hanya diperhatikan oleh kita sendiri saja, tapi juga berbagai pihak lainnya. Usaha yang tidak kenal menyerah akan membuka peluang bagi pihak lain untuk tertarik membantu, untuk ikut memberikan kemenangan kecil mereka bagi kita, dan pada akhirnya kita dapat menyusunnya menjadi sebuah kemenangan besar.

Suatu pengalaman yang sangat berharga menghadiri pameran Jakarta Biennale. Saya yakin, Jakarta Biennale akan memberikan banyak pelajaran bagi setiap orang yang memerhatikan setiap karya dengan seksama. Jika Charles Esche dalam catatan kuratorial berharap dapat menjadikan Jakarta Biennale 2015 sebagai media dalam mengutarakan gagasan yang berpengaruh, saya rasa harapan tersebut sudah terwujud dengan baik. Hanya saja untuk dapat take effect, suatu gagasan harus diresapi dan diterapkan oleh publik. Sekarang tinggal menunggu publik bergerak meresponi gagasan-gagasan ke-enam kurator Jakarta Biennale. Saya berharap ada banyak orang yang terinspirasi dari sana sehingga pameran tersebut tidak tergulir sia-sia. Terima kasih banyak, Jakarta Biennale.

IMG-20151220-WA0048